About Me

My photo
have facebook , have twitter
Showing posts with label Penuh. Show all posts
Showing posts with label Penuh. Show all posts

Tuesday, January 28, 2014

Renungan: Delapan Kebohongan Ibu yang Penuh Cinta


Cerita ini dikutip dari kidung.com

Kebohongan Ibu yang Pertama
Cerita bermula ketika kanak-kanak, terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk, ibu berkata, “Makanlah nak, aku masih kenyang!”

Kebohongan Ibu yang Kedua
Ketika mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di sungai dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingannya, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk keluarga.
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan.
Melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpit, aku berikan sedikit bagianku dan memberikannya kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata, “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan!”

Kebohongan Ibu yang Ketiga
Saat masuk SMP, demi membiayai sekolah, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup.
Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api.
Aku berkata, “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata, “Kamu tidurlah duluan, aku belum mengantuk.”

Kebohongan Ibu yang Keempat
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menungguku selama beberapa jam.
Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Melihat Ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk Ibu sambil menyuruhnya minum. Namun Ibu menjawab, “Minumlah nak, aku tidak haus!”

Kebohongan Ibu yang Kelima
Setelah kepergian Ayah karena sakit, Ibu yang malang harus merangkap sebagai Ayah dan Ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri.
Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil.
Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati Ibuku untuk menikah lagi. Tetapi Ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, Ibu berkata, “Saya lebih senang sendiri bersama kalian anak-anakku.”

Kebohongan Ibu yang Keenam
Setelah aku sudah tamat dari sekolah dan bekerja, Ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi Ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kakak ku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan Ibu, tetapi Ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata, “Terima kasih Nak, Ibu masih punya duit.”

Kebohongan Ibu yang Ketujuh
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa dari sebuah perusahaan.
Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa Ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi Ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku, “Aku lebih suka disini.”

Kebohongan Ibu yang Terakhir
Setelah memasuki usianya yang tua, Ibu terkena penyakit kanker, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang Samudera Atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta.
Aku melihat Ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.
Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuhnya sehingga Ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap Ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat Ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi Ibu dengan tegarnya berkata, “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan.”

Setelah mengucapkan kebohongannya yang terakhir, Ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

“Berbaktilah pada Ibumu, Ibumu, Ibumu, Ayahmu!”
Coba pikirkan lagi, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon Ayah dan Ibu kita? Berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan Ayah Ibu kita?
Di tengah-tengah aktivitas yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan Ayah Ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan Ayah dan Ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan kekasih kita, kita pasti lebih peduli dengan kekasih kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar kekasih kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari kedua orang tua kita? Cemas apakah mereka sudah makan atau belum? Cemas apakah mereka sudah bahagia atau belum?
Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi Ayah dan Ibu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata menyesal di kemudian hari.

View the original article here

Wednesday, April 10, 2013

Resensi Film : October Sky, Film Bermakna Penuh Motivasi

October Sky, adalah sebuah film yang membuat saya semangat lagi ketika keadaan sedang down, belakangan ini. Entah karena sedang malas-malasnya untuk beranjak dari tempat tidur akibat sedang liburan sekolah, ataupun mungkin karena lagi bad mood akibat "some troubles". Tapi apapun alasannya, saya sekarang sedang bersemangat untuk membuat suatu gebrakan dalam hidup saya, berkat film ini.
October Sky
Film yang diangkat dari kisah nyata ini, di sutradarai oleh Joe Johnston. Dengan pemain yang tak asing lagi bagi saya, seperti Jake Gyllenhaal (Inception, The Day After Tommorow, Source Code, Prince Of Persian), Chris Cooper (The Bourne Identity, The Company Men) dan Laura Dern (I Am Sam).

Dilatarbelakangi oleh peluncuran satelit pertama dalam sejarah umat manusia, Sputnik, pada bulan Oktober 1957. Satelit buatan Uni Soviet ini berhasil mengangkasa dengan sempurna dan membuat USA iri. Apalagi keadaan perang dingin yang berhasil membuat belahan dunia ini mencekam, semakin menambah keadaan masyarakat USA terasa terancam oleh peluncuran satelit ini.

Seperti halnya masyarakat Amerika Serikat lain, Homer, seorang siswa kelas 3 SMA merasakan hal yang sama, yaitu ketakutan teror dan bom dari satelit itu. Namun, Homer menanggapinya dengan positif, ia merasa bahwa adanya satelit itu menjadikan dorongan kepadanya untuk meluncurkan satelit buatannya sendiri, USA.  Awal mula sejarah perlombaan di bidan Sains dan Teknologi Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Ia bersama 3 orang temannya, Quentin Wilson, Roy Lee Cook dan Sherman O'Dell, mencoba untuk membuat roket sederhana untuk mengikuti jejak Uni Soviet. Sekaligus untuk mengikuti Lomba Sains Nasional. Dengan harapan mendapatkan beasiswa masuk di Universitas impiannya. Karena biasanya yang mendapatkan beasiswa hanya pemain Football.

Pembuatan roketnya tidak berjalan mulus seperti yang mereka bayangkan. Banyak sekali perbcoaan-percobaan yang mereka lakukan. Roket tidak meluncur, roket meledak, bahkan sampai roketnya membuat kebakaran hutan. Tapi itu bukan masalah utamanya. Masalah utamanya adalah mereka tidak di ijinkan oleh orangtuanya untuk membuat roket. Orangtua mereka berharap mereka menjadi penambang batu bara seperti keluarganya. Apalagi Homer, ayahnya sama sekali tidak mendukung impiannya itu. Seringkali mereka berdebat panjang, dan berakhir pada keputusan yang tidak jelas.
"Coal mining may be your life, 'but it's not mine'. I'm never going down there again. I wanna go into space."
"Pertambangan Batubara mungkin hidup Anda, 'tapi itu bukan milikku'. Aku tidak akan ke sana lagi. Aku ingin pergi ke luar angkasa."
Namun, berkat usaha dan kerja keras bersama rekannya, Homer berhasil mengikuti Lomba Sains Nasional. Dan menjadi pemenang urutan pertama dalam lomba tersebut. Dengan demikian, mereka mendapatkan beasiswa untuk kuliah.
Dari Kanan : Homer, O' Dell, Quentin, Roy Lee
Setelah lulus kuliah :
- Quentin Menjadi seorang Insinyur di industri Minyak.
- Roy lee menjadi seorang dialer mobil dan seorang pensiunan banker.
- O'Dell menjadi seorang Pemilik Peternakan dan pemilik perusahaan asuransi.
- Homer Hickam menjadi seorang Insinyur NASA, dan melatih astraunot untuk peluncuran ke luar angkasa.

View the original article here