About Me

My photo
have facebook , have twitter
Showing posts with label Penting. Show all posts
Showing posts with label Penting. Show all posts

Wednesday, November 20, 2013

Kakek ini telah mematahkan bagian tubuh yang sangat penting !

Gapura,Jaya gk pura pura, CrapNews - Seorang kakek kakek masih mempunyai badan yang utuh membuat heboh warga sekampung karena kakek itu sudah mematahkan sebuah bagian tubuh yang sangat penting.

Setelah dilesekidi (eh diselidiki) rupanya sang kakek mematahkan giginya sendiri, kakek itu kesakitan setelah mematahkan giginya, katanya " ini uatit uanget yasanya kuaya muawu di tusyuk " Ujar sang kakek.

Diduga Gigi tersebut sudah rapuh sehingga kakek itupun mematahkannya, "ya biasa aja sih, saya sering melakukan ini, biasanya kalau gak ada kerjaan." ujar kakek tanpa merasa bahagia.
Gigi yang copot atas tuduhan ini telah menyakiti seseorang divonis pulang pergi mengelilingi setiap gigi orang untuk silaturahmi.

Dan satu lagi, maaf untuk berita ini gambar sedang tidak ada, dikarenakan sang kakek mengatakan "Saya bukan anak alay , maklum lah waktu SMA saya culun,jadi saya gak suka narsis narsis di foto gitu"
Sekali lagi minta maaf.

(crapnews/fri/krm)

Wartawan : Fahreza
Dari got,Fri Dhevon Melaporkan .


View the original article here

Thursday, October 10, 2013

[Review UCL] Copenhagen 1-1 Juventus: Hilangnya Dua Poin Penting

You Are Here: Home » All Articles, Match Review » [Review UCL] Copenhagen 1-1 Juventus: Hilangnya Dua Poin Penting

Memasuki pertandingan ini, Juventus sangat diunggulkan untuk mengambila tiga angka penuh. Copenhagen sudah bukanlah tim yang sekuat tim musim 2010/11 dimana mereka berhasil melaju ke babak 16 besar UEFA Champions League. Tim yang sekarang telah kehilangan beberapa pemain terbaiknya dan beberapa kali mengalami pergantian pelatih. Pelatih yang sekarang, Stale Solbakken, baru kembali ke Copenhagen setelah resign di akhir musim 2010/11 dan selama dua tahun terakhir telah mencoba tiga pelatih lain yang semuanya gagal.

Di kompetisi dalam negri, Copenhagen berada di zona degradasi karena permainannya yang belum kunjung membaik. Maka tidak heran, para pengamat memprediksi Copenhagen akan selalu kalah dalam enam pertandingan grup UCL ini.

Namun, begitu peluit berbunyi, kenyataan berbicara lain. Copenhagen bermain luar biasa dengan pressing tinggi dan bertahan sebagai satu kesatuan unit dengan two banks of four.

Picture1

Selain itu, mereka bertahan sebagai satu unit dan jarak antara satu bagian dengan bagian lain sangat sempit, sekitar sepertiga lapangan.

Picture2

.

Picture3

Dari dua gambar di atas, bisa dilihat pemain-pemain Copenhagen tetap mempertahankan jarak vertikal begitu pemain-pemain Juve menusuk masuk. Pressing dan garis pertahanan tinggi ini menyerupai apa yang diterapkan oleh tim super Milan di masa Arrigo Sacchi yang merajalela di Eropa dan Dunia di akhir 1980an dan awal 1990an.

Dilain pihak, pelatih Antonio Conte mengandalkan bola-bola lambung yang mengarah ke belakang pertahanan Copenhagen, mungkin untuk menyimpan tenaga. Otomatis, Arturo Vidal dan Paul Pogba harus didorong ke depan supaya umpan-umpan tersebut lebih efektif. Sayang, taktik ini gagal menciptakan peluang dan justru Juve malah kebobolan.

Picture4

Padahal, apabila Vidal-Pogba turun, Juve dapat bermain pass-to-feet yang selama ini menjadi keunggulan mereka dan ini terbukti, dari satu-dua kesempatan yang ada, saat bola sampai ke kaki mereka di tengah, serangan Juve menjadi hidup.

Pemain-pemain Juve kurang cepat menanggapi hal ini sehingga di menit ke-14, melalui sebuah kegagalan dalam mengantisipasi tendangan bebas dari sisi kiri pertahanan, gawang Gianluigi Buffon harus kebobolan. Copenhagen 1-0 Juventus.

Setelah unggul, Copenhagen tetap mempertahankan pressing tinggi dan ke-compact-an unit sehingga mempersulit Juve untuk menembus pertahanan Copenhagen.

Walau begitu, kualitas Copenhagen yang biasa-biasa saja membuat Juve tetap bisa mendapatkan peluang emas. Di menit ke-21, sebuah serangan yang dibangun di sisi kanan diakhiri dengan crossing Vidal ke tengah. Bola gagal diantisipasi pemain-pemain belakang Copenhagen dan Giorgio Chiellini dengan bebas menyudul bola ke gawang. Sayang, bola mengarah ke kiper Johan Wiland dan sang kiper melakukan penyelamatan gemilang.

Dari sepak pojok hasil penyelamatan tersebut, kembali kemelut terjadi di gawang Copenhagen dan bola jatuh di kaki Pogba. Sayang, Pogba juga menembak ke arah Wiland dan berhasil diselamatkan dengan lututnya. Dua kesempatan emas terbuang karena bola diarahkan ke kiper yang juga bermain luar biasa.

Akan tetapi, kedua peluang emas ini tercipta secara acak dan bukan sesuatu yang sengaja dibangun. Dari sisi taktik, Juve gagal menembus pertahanan Copenhagen yang sebenarnya memiliki kualitas biasa-biasa saja.

Saat bertahan, pemain-pemain Juve tidak melakukan pressing dan hal ini memudahkan Copenhagen untuk mengalirkan bola. Sepertinya, pemain-pemain kita sengaja menyimpan tenaga untuk babak kedua. Memang, sulit untuk terus dapat melakukan pressing selama 90 menit.

HT: Copenhagen 1-0 Juventus (Cop: 14' Jorgensen).

Di babak pertama ini, Solbakken unggul taktik dengan menggunakan pressing tinggi dan pertahanan compact antar lini. Taktik Conte yang memainkan bola-bola lambung terbukti tidak efektif. Saat bertahan, Juve juga tidak melakukan pressing sehingga Copenhagen cukup leluasa memainkan bola.

***

Conte menyadari kesalahan ini dan di 10-15 menit terakhir babak pertama, Juve lebih sering bermain pass-to-feet dan permainan menjadi lebih baik dan ini berlanjut ke babak kedua.

Dan kesabaran Juve membuahkan sebuah peluang emas di menit ke-52. Setelah bola diputar ke sana-sini, akhirnya Pirlo melepas umpan lambung ke depan dan Carlos Tevez lepas dari perangkap offside. Sayang, tendangannya mengarah langsung ke kiper dan Wiland menyelamatkannya dengan kaki kirinya.

Di menit ke-54, akhirnya Copenhagen membuat kesalahan. Empat bek mereka tertarik ke tengah oleh pergerakan Fabio Quagliarella, Tevez dan Pogba yang naik dan sayap kanan mereka lalai mengikuti pergerakan Federico Peluso yang menusuk dari sisi sayap.

Picture5

Peluso yang bebas, dengan leluasa melepaskan umpan tarik mendatar ke tengah dan Quagliarella dengan tenang menyelesaikan umpan ini (dan TIDAK mengarah ke kiper!) GOAL! Copenhagen 1-1 Juventus.

Setelah gol ini, perlahan tapi pasti Juve mendominasi permainan dengan permainan pass-to-feet dan perlahan-lahan membongkar pertahanan two banks of four milik Copenhagen.

Di menit ke-59, Peluso kembali lepas dengan cara yang kurang lebih sama dengan saat gol Quagliarella (bek –> Tevez –> Peluso –> Penerima Umpan) terjadi namun kali ini, Stephan Lichtsteiner yang bebas menerima umpan gagal menembak bola ke arah gawang. Gagal-lah peluang emas Juve.

Di menit ke-61, permainan passing Juve membuat Pirlo lepas di depan kotak penalti lawan dan dia melakukan tendangan langsung ke gawang. Sayang Wiland kembali sigap. Bola yang muntah sebenarnya berhasil disambar Lichtsteiner di samping tetapi umpannya ke tengah tidak akurat sehingga peluang bagus kembali sirna.

Di menit ke-64, sebuah serangan yang dibangun berhasil sampai ke kaki Lichtsteiner di sayap kanan. Umpan tariknya sampai di kepala Quagliarella namun sayang, bola sundulannya hanya mengenai mistar gawang!

Akan tetapi, di menit ke-73, Conte melakukan pergantian pemain yang menurut penulis, mengherankan. Peluso yang bermain baik dan di babak kedua berkali-kali lepas di sayap kiri, digantikan oleh Paolo De Ceglie. Dengan pergantian ini, Juve kehilangan serangan dari sisi kiri.

Di menit ke-76, Pogba di tengah melepas umpan lambung ke Quagliarella yang kemudian menyundulnya ke arah Vidal yang menusuk masuk ke kotak penalti. Bek kiri Copenhagen gagal mengikuti pergerakannya tetapi sayang, satu lawan satu dengan Wiland, Vidal gagal menyarangkan bola dan tembakannya hanya mengenai kaki kiper Copenhagen tersebut.

Di menit ke-77, sebuah serangan Lichtsteiner di sayap kanan menciptakan peluang bagi Tevez, yang kemudian melepaskan tembakan langsung ke gawang. Namun kembali, Wiland kembali dapat mengantisipasi hal ini dan melakukan penyelamatan.

Namun setelah ini, peluang-peluang bagus tidak tercipta lagi terutama karena Juve kehilangan Peluso di kiri dan Quagliarella di jantung pertahanan Copenhagen. De Ceglie dan Sebastian Giovinco tidak dapat menggantikan peran mereka.

FT: Copenhagen 1-1 Juve (Cop: 14' Jorgensen; Juv: 54' Quagliarella).

Copenhagen_Juve_Stats

***

Copenhagen (4-4-2): Wiland; Jacobsen, Mellberg, R Sigurdsson, Bengtsson; Bolanos (79' Toutouh), Claudemir (85' Margreitter), Delaney, Braaten; Adi (69' Gislason), N Jorgensen.

Juventus(3-5-2): Buffon; Bonucci, Ogbonna, Chiellini; Lichtsteiner (85' Isla), Vidal, Pirlo, Pogba, Peluso (73' De Ceglie); Quagliarella (76' Giovinco), Tevez.

***

Menurut penulis, taktik memainkan bola lambung di babak pertama kurang tepat karena walau tim dapat menyimpan tenaga tetapi sebaliknya, Juve kebobolan karena pressing tinggi Copenhagen yang membuat Juve tertekan.

Di babak kedua, permainan pass-to-feet perlahan-lahan membongkar pertahanan Copenhagen dan pressing tinggi dan compactness mereka di babak pertama menghabiskan energi mereka. Tidak kurang dari enam peluang emas tercipta namun karena tembakan kebanyakan mengarah ke kiper dan Wiland bermain gemilang, Juve gagal menambah gol.

Dari sisi pergantian pemain, begitu Peluso dan Quagliarella ditarik keluar untuk digantikan De Ceglie dan Giovinco, serangan kiri Juve “mati” dan Juve kehilangan pemain di dalam kotak penalti yang terus bergerak. De Ceglie bermain buruk dan Giovinco lebih banyak bermain di luar kotak penalti.

Kalau saja Peluso bisa dipertahankan dan Fernando Llorente yang masuk menggantikan Quagliarella, ceritanya bisa lain. Namun walau begitu, pertandingan ini membuktikan bahwa tidak ada pertandingan mudah di Champions League dan Juve harus berusaha maksimal selama 90 menit. Tidak maksimal, poin hilang.

Mudah-mudahan di pertandingan berikutnya, Juventus-Galatasaray, Juve dapat mengambil hikmah dari pertandingan ini dan mengambil tiga poin yang sangat penting. Forza Juve!!!


View the original article here

[Daily News 03/10/13] Hilang (Lagi) Dua Poin Penting Eropa

Tadi malam Juventus secara tak terduga mampu ditahan imbang oleh wakil Turki, Galatasaray dengan skor 2-2 di kandang sendiri semalam. Bermain di Juventus Stadium dan di hadapan pendukung setia mereka, Juve sempat membalikkan keadaan setelah lama tertinggal terlebih dahulu, sebelum Galatasaray menyamakan kedudukan.

Pertandingan berlangsung tak bersemangat. Kedua tim sama-sama kesulitan mengancam gawang lawan.  Lini tengah kedua tim sama-sama mematikan para kreator dari kedua pihak, Andrea Pirlo dan Wesley Sneijder. Galatasaray memperoleh peluang pertama di pertandingan ini ketika Didier Drogba mencoba menembak dari sudut sempit, tetapi Gianluigi Buffon mampu menahan bola di tiang dekat.

Mirko Vucinic mengalami cedera setelah memperoleh kesempatan di kotak penalti lawan. Otot pahanya mengalami cedera saat ia berusaha mengontrol bola lambung. Fabio Quagliarella masuk menggantikan dirinya. Quagliarella menjadi pemain Juve pertama yang mengancam gawang lawan, ketika ia menyambar umpan rendah Tevez tetapi sayang usahanya mampu digalau bek Galatasaray.

Galatasaray membuka skor lebih dahulu. Leonardo Bonucci mencoba melakukan backpass dari sebuah bola lambung, tetapi usahanya meleset dan lemah. Drogba yang berada di dekatnya menyambar bola mendahului Buffon yang keluar dari kotaknya. Buffon terkecoh dan Drogba pun mampu menceploskan bola ke gawang kosong.

Juve sempat kesulitan menembus pertahanan Galatasaray yang bermain rapat di babak pertama. Beberapa peluang dari jarak jauh oleh Kwadwo Asamoah, Carlos Tevez, dan Fabio Quagliarella antara dapat ditahan kiper Fernando Muslera atau tidak menemui sasaran.

Di babak kedua, Juve mulai menekan dan berkat Arturo Vidal, mereka sempat beberapa kali mengancam gawang Muslera, salah satunya dengan tendangan keras yang melambung sedikit di atas mistar. Permainan Juventus baru berkembang setelah Conte memasukkan Fernando Llorente menggantikan Leonardo Bonucci, dan nampak menggunakan skema 4-3-3. Sentuhan pertama Llorente bahkan hampir berbuah gol, setelah ia menanduk crossing Asamoah dari kiri namun sayang sundulannya melambung sedikit di atas gawang.

Akhirnya Juventus mampu menyamakan kedudukan melalui penalti Arturo Vidal. Fabio Quagliarella dijatuhkan oleh Nourredine Amrabat di dalam kotak penalti. Dari replay terlihat bahwa pelanggaran Amrabat tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat wasit Kasai memberikan hukuman serta kartu kuning bagi gelandang Galatasaray itu.

Empat menit menjelang pertandingan berakhir, akhirnya kemenangan ada di depan mata Juventus ketika, setelah gelombang serangan yang dilancarkan Juve, Andrea Pirlo melepas umpan silang terarah kepada Quagliarella yang tak terjaga di kotak penalti. Sundulan Quagliarella tidak mampu ditahan Muslera. Juventus unggul untuk pertama kalinya dalam laga ini.

Akan tetapi drama terjadi dan kemenangan Juve yang sudah di depan mata mampu digagalkan tim tamu satu menit berselang. Langsung dari kickoff mereka, Didier Drogba mampu melompat mendahului Giorgio Chiellini dan menanduk umpan lambung dari belakang kepada pemain pengganti Umut Bulut yang tak terjaga. Bulut pun mengontrol bola dengan satu sentuhan dan kemudian melepas tendangan yang tak mampu ditahan Buffon. Kedudukan kembali imbang ketika para fans Juventus masih merayakan gol Quagliarella.

Juventus mencoba menggempur tim tamu di sisa laga, dan kendati masih mendapat satu peluang terakhir melalui sontekan Llorente, tidak mampu menambah gol. Kedudukan 2-2 bertahan hingga peluit panjang berbunyi.

Juventus 2 – 2 Galatasaray

Gol: Vidal 78 (pen), Quagliarella 87; Drogba 36, Bulut 74

Juventus: Buffon; Barzagli, Bonucci (Llorente 68), Chiellini; Lichtsteiner (Isla 46), Vidal, Pirlo, Pogba, Asamoah; Vucinic (Quagliarella 26), Tevez

Galatasaray: Muslera; Riera (Amrabat 60), Chedjou, Semih Kaya (Gokhan Zan25), Eboue; Felipe Melo, Selcuk Inan; Bruma, Sneijder (Bulut 74), Hakan Balta; Drogba

Wasit: Kassai (Hungaria)

Conte’s Reactions

Pelatih Juventus, Antonio Conte mengungkapkan isi pikirannya setelah hasil imbang melawan Galatasaray tersebut. Ia menyebutkan bahwa kecolongan gol dari tim lawan adalah hal yang dapat terjadi dalam sepakbola. Ia juga mengungkapkan mengapa dirinya tetap bersikukuh dengan formasi yang sama.

“Sayang sekali (hasil ini), karena kami sudah mampu membalikkan keadaan setelah start buruk akibat kesalahan individual, sesuatu yang bisa saja terjadi, tapi kemudian kebobolan tak lama setelah kami mencetak gol. Tapi itulah sepakbola. Kami membalikkan skor lalu langsung bisa disamakan. Kami harus lebih seksama dan fokus. Para pemain mencoba dengan keras untuk mampu meraih hasil terbaik, dan kami (sempat) berhasil melakukannya dengan baik.

Ini adalah perjalanan yang panjang dan sukar, tapi kami tidak akan membuat hal itu (kecolongan gol) mematahkan semangat kami. Kami harus menghadapi pertandingan Champions League berikut dengan belati di gigi kami dan apabila kami bisa meraih hasil baik, maka kami akan melaju (ke babak selanjutnya), dan apabila tidak berarti lawan kami lebih baik dan kami harus angkat topi untuk mereka.

Saya lebih memilih untuk membahas hal-hal taktikal dengan para pemain saya. Ketika kami menganalisa sebuah pertandingan, melihat sisi positif dan hal-hal yang kurang baik, kami bisa mengidentifikasi kesalahan-kesalahan ini. 

Membuat perubahan untuk membuat kaget lawan adalah sesuatu yang bisa dilakukan ketika pertandingan sedang berjalan. Tetapi kami hanya mempunyai Simone Pepe dalam skuad ini yang memungkinkan kami memainkan formasi 4-3-3. Anda harus memilih formasi yang bisa mengeluarkan kemampuan terbaik personil yang ada dalam skuad anda. Saya rasa saya tidak bisa menggunakan Stephan Lichtsteiner atau Mauricio Isla di sayap kanan pada formasi 4-3-3. Sayangnya Pepe masih cedera dan saya tidak mempunyai pemain sayap (lain) di skuad ini.

Ada lima penyerang di skuad ini dan mereka semua mendapat kesempatan bermain, agar mereka semua merasa bagian dari tim. Apapun yang terjadi, saya akan selalu mendapat protes tentang siapa yang tidak saya gunakan, tetapi saya tidak dapat menggunakan mereka semua secara bersamaan.

Mirko Vucinic dan Stephan Lichtsteiner mendapat masalah pada otot mereka, Kami akan menunggu hingga esok untuk mendapat gambaran cedera mereka, tetapi saya harap cedera mereka tidak terlalu serius.”

Juventus akan menghadapi Milan pada akhir pekan ini, dan menarik untuk ditunggu bagaimana Conte dan para pemainnya akan bereaksi setelah hasil ini.

Quagliarella’s

 

Fabio Quagliarella hampir menjadi pahlawan kemenangan Juventus tadi malam. Gol tandukannya adalah yang kedua dalam dua pertandingan Champions League musim ini. Andai tidak langsung dibalas oleh Galatasaray, golnya akan menjadi gol kemenangan Juve. Quagliarella mengungkapkan kekecewaannya karena kecolongan dua gol dari Galatasaray yang minim mendapat peluang.

“Sayang sekali, karena saat itu (setelah gol kedua Juve) kami seperti akan memenangi pertandingan ini. Mengecewakan sekali, karena kami sudah menguasai jalannya pertandingan, dan harus kebobolan dua gol dari dua tembakan ke gawang. Juventus pantas memenangi laga ini. Momen seperti ini adalah bagian dari sepakbola, dan sayangnya momen ini berseberangan dengan kami. Ini meninggalkan sebuah perasaan pahit ketika anda mendorong begitu kuat dan akhirnya berhasil, tetapi kemudian mereka mencetak gol langsung di situasi selanjutnya.

(Penalti) itu jelas sebuah pelanggaran. Pemain bertahan itu menghampiri dengan dengan cepat. Kontak tak terhindarkan dan saya tidak bisa mengelak dan menjaga keseimbangan. Saya selalu siap untuk dimainkan, dan Conte mengetahui saya akan memberikan yang terbaik ketika saya ada di starting line-up ataupun jika saya masuk di tengah pertandingan. Kadang kala permainan berjalan dengan baik bagi kami, tapi di saat lainnya tidak.

Seperti yang Conte katakan dalam konferensi persnya, tim lain bertahan ketika ketika bertemu kami, sambil berharap bisa membahayakan melalui serangan balik. Keadaan menjadi sulit ketika seluruh tim lawan berada di belakang bola dan anda tidak bisa menemukan ruang gerak. Tetapi kami harus bekerja dan menemukan cara untuk mengatasi taktik bertahan ini.”

Quagliarella sudah mencetak 6 gol dalam dua musim terakhir di UEFA Champions League, terbanyak di antara pemain Juventus.

Bonucci’s Apology

Sementara itu bek Leonardo Bonucci meminta maaf atas kesalahannya yang berujung pada gol pertama Galatasaray. Bonucci salah memberikan backpass dan ini mampu dimanfaatkan Didier Drogba untuk menceploskan bola ke gawang Gigi Buffon. Ia juga mengungkapkan bahwa rasa lapar Juventus tidak berkurang sejak 2 musim terakhir.

“(Gol) itu kesalahan saya. Saya mengira Drogba lebih dekat, dan saya salah membuat operan. Drogba memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.  Di pertandingan Eropa anda harus membayar mahal kesalahan ini. Kesalahan bisa terjadi kapan saya, dan membuat kesalahan ketika anda pemain terakhir (di garis pertahanan) berarti anda harus membayar mahal. Sayang sekali karena kami bertahan dengan rapat sepanjang pertandingan dan harus kebobolan dua kali dari dua kesempatan dimana kami terekspos tim lawan.

Saya selalu berkata kami harus lebih baik di Eropa, dan sekarang kami harus bekerja keras untuk memperbaiki apa yang kami pelajari dari pertandingan ini. Di beberapa pertandingan terakhir, kami selalu tertinggal dan lawan selalu berusaha menekan saya sebagai orang terakhir. Saya selalu berusaha mencari jalan, memberikan bola kepada rekan-rekan setim di sekitar saya. Dari 200 operan dalam sebuah pertandingan, akan ada satu-dua yang tidak tepat sasaran. Saya tidak merasa momen-momen kecerobohan ini terjadi karena rasa lapar yang berkurang. Kami berhasil membalikkan keadaan malam ini, tetapi sayangnya tidak mampu mempertahankan keunggulan. Kami adalah Juventus dan itu berarti kami selalu mengincar kemenangan dari setiap pertandingan.”

Mancini’s Objection

Pelatih Galatasaray, Roberto Mancini merasa Galatasaray bisa menang jika Juventus tidak mendapat hadiah penalti yang menurutnya aneh.

“Pertandingan yang sangat aneh, karena Juventus tertinggal dan kemudian diberikan hadiah penalti yang, menurut saya, aneh. Saya rasa mereka tidak akan mampu mencetak gol tanpa penalti itu. Saya merasa itu bukan sebuah pelanggaran.

Kami bermain baik di babak pertama, tetapi setelah jeda kami kehilangan stamina dan Juventus mampu menekan kami lebih banyak. Kami memutuskan untuk bertahan dan merapatkan pertahanan, karena kami tahu Juventus menyukai bola-bola panjang dari Andrea Pirlo. Saya pikir ini bukan performa terbaik Juventus, seperti yang terlihat dari kesulitan yang mereka alami dalam beberapa pertandingan terakhir. Tapi ini hal yang normal bagi sebuah tim yang memenangi segalanya dalam dua tahun terakhir. Mereka juga harus menghadapi tim-tim yang bermain bertahan dan menutup ruang gerak lawan. Saya tahu ini akan menjadi pertandingan yang menyulitkan karena Juventus adalah tim yang hebat.

Fisik kami terkuras di babak kedua, dan ini adalah sesuatu yang harus dibenahi oleh tim. Kami akan bekerja untuk memperbaiki ini saat international break. Saya mengenal pemain-pemain saya dengan lebih baik, karena saya belum mengenal mereka semua dengan baik. Saya baru menangani tim ini selama dua hari, jadi saya mencoba mempelajari pemain-pemain saya. Drogba sangat luar biasa malam ini, dan sejujurnya saya tidak menyangka dia akan bermain sebagus ini. Ia bermain sangat hebat.”

Mancini dan Galatasaray selanjutnya akan menghadapi dua laga melawan FC Copenhagen di Champions League.

Another Juve, Another Result

Dari UEFA Youth League, tim primavera Juventus mampu mengatasi tim muda Galatasaray dengan skor 3-1. Anak-anak asuhan Andrea Zanchetta ini meneruskan rentetan kemenangan mereka setelah kemenangan di ajang Supercoppa Primavera melawan Lazio dan di kompetisi Campionato Primavera melawan Genoa.

Bermain sekitar 2 jam sebelum kickoff antara tim senior mereka, pertandingan Juve Primavera dan tim muda Galatasaray disaksikan oleh Pavel Nedved dan Simone Pepe. Pol Garcia Tena bertindak sebagai kapten memimpin rekan-rekannya di Stadio Gino Pistoni. Salah satunya adalah Emil Audero, kiper jebolan tim Allievi yang memiliki darah Indonesia. Tim muda Juventus juga memainkan formasi 3-5-2 yang diperkenalkan oleh Antonio Conte sejak dua setengah musim terakhir.

Babak pertama berlangsung cukup seimbang, dan Juventus tidak mampu membuka skor. Baru di babak kedua Juventus  bisa membuka keunggulan tepatnya di menit ke-3 babak kedua, ketika Younes Bnuo-Marzouk mencetak gol. Matteo Gerbaudo kemudian menggandakan keunggulan ini melalui tendangan keras dan terukur.

Pemain Galatasaray, Samet Orhan sempat memperkecil ketertinggalan namun Alhassane Soumah mampu memastikan kemenangan Juventus. Ini adalah kemenangan pertama tim primavera di ajang UEFA Youth League, yang sekaligus menempatkan mereka di posisi puncak grup B dengan 4 poin.

Dengan kompetisi Campionato Primavera yang akan memasuki jeda selama bulan Oktober, Juventus akan bisa berkonsentrasi menjelang dua partai melawan tim muda Real Madrid. Madrid sendiri baru memperoleh dua poin hasil dua kali imbang dengan Galatasaray dan Copenhagen.

_________________________________________________________________________________

Hit me @adityaregar and ask.fm/adityaregar.

PS: I honestly still prefer the 3-5-2, but Conte needs to learn to adapt a new system. And quick….


View the original article here