About Me

My photo
have facebook , have twitter
Showing posts with label Juventus. Show all posts
Showing posts with label Juventus. Show all posts

Thursday, January 2, 2014

[Preview Coppa Italia] Juventus – Avellino: Ajang Pembuktian Marchisio dan Giovinco

You Are Here: Home » All Articles, Match Preview » [Preview Coppa Italia] Juventus – Avellino: Ajang Pembuktian Marchisio dan Giovinco

Signora1897 ers, hari Rabu malam (atau Kamis pagi jam 03.00 WIB) ini Juventus akan menjamu tim Serie B Avellino di kancah Coppa Italia babak perdelapan-final. Partai ini adalah satu-satunya partai perdelapan-final Coppa Italia yang dimainkan di tahun 2013 dimana partai-partai lain akan dimainkan pada tanggal 8, 9, 14 dan 15 Januari 2014.

Coppa_Italia_Bracket

Dalam sejarahnya, Juve telah bertemu dengan Avellino dua kali di kancah Coppa Italia dan keduanya adalah di babak perempatfinal dengan sistem home and away. Di pertemuan pertama, Juve unggul 3-1 (away) dan 3-2 (home) di tahun 1981 dan di pertemuan kedua, tahun 1988, seri 1-1 (away) dan menang 1-0 (home). Secara keseluruhan, pertemuan terakhir Juve-Avellino adalah pada tanggal 30 Agustus 1995 saat Juve menang 4-1 di kandang Avellino dimana pelatih kita Antonio Conte juga bermain (sumber: Juventus.com).

***

Dalam pertandingan ini, Juve tidak dapat memainkan Arturo Vidal karena terkena larangan bermain karena akumulasi kartu di Coppa Italia musim lalu. Selain itu, kemungkinan besar Conte akan merotasi sebagian besar pemain.

Berikut adalah perkiraan susunan pemain dalam formasi 3-5-2:

Storari; Caceres, Bonucci, Ogbonna; Isla, Padoin, Pogba, Marchisio, Peluso; Quagliarella, Giovinco.

Sebagian starter akan diistirahatkan. Mirko Vucinic belum sembuh 100% dari cederanya dan diperkirakan tidak akan dimainkan.

***

avellino-galabinovSekarang ini, Avellino berada di posisi kelima klasemen Serie B di giornata ke-18. Biancoverdi, julukan Avellino karena mereka memakai seragam hijau-putih, baru saja promosi ke Serie B setelah musim lalu menjadi juara grup B lega pro. Dalam sejarahnya, dua legenda Juve Zbigniew Boniek (1994 – 1996) dan Antonello Cuccureddu (2004 – 2005) pernah menjadi pelatih Avellino.

Pelatih Massimo Rastelli menggunakan formasi 3-5-2 di pertandingan Coppa Italia mereka yang terakhir dan 4-3-1-2 di Serie B Sabtu kemarin. Pemain andalan tim yang dikapteni Francesco Millesi ini adalah Andrey Galabinov, striker Bulgaria yang dipinjamkan dari Livorno dan Luigi Castaldo, penyerang Italia yang telah mencetak lima gol (sumber: Juventus.com).

***

Dilihat dari performa Serie B mereka, Avellino adalah tim yang memiliki pertahanan cukup baik dan baru kebobolan 17 gol dari 18 pertandingan, keenam terbaik di Serie B. Apabila benar Conte akan mengistirahatkan Fernando Llorente dan Carlos Tevez di depan dan menurunkan Fabio Quagliarella dan Sebasatian Giovinco yang jarang bermain, ada kemungkinan Juve akan menemui kesulitan untuk membobol gawang Avellino. Para pemain tengah, yang ditunjang oleh wing back kanan dan kiri, tampaknya harus bekerja keras dalam pertandingan ini.

Marchisio_GiovincoApabila kapten Gianluigi Buffon dan wakil Giorgio Chiellini diistirahatkan, Claudio Marchisio akan menjadi kapten dalam pertandingan ini dan I Principino yang tidak bermain pada pertandingan Juve-Sassuolo kemarin harus dapat memimpin lapangan tengah untuk merapatkan barisan pertahanan dan menusuk dari lini kedua. Giovinco, apabila benar diturunkan, harus dapat menggunakan kelebihan passing dan skil individunya untuk membuka pertahanan lawan.

Lebih daripada yang lain, dengan semakin tidak tergantikannya Paul Pogba dan Llorente-Tevez, ini adalah ajang pembuktian kedua mantan pemain primavera tersebut untuk memperlihatkan kemampuannya kepada Conte.

Menurut penulis, ini tidak akan menjadi pertandingan yang mudah. Bermain tanpa Andrea Barzagli dan Chiellini, dua pemain belakang terbaik kita, tentu akan berpengaruh dalam kekokohan pertahanan. Andrea Pirlo (cedera) dan Vidal adalah “roh” permainan Juve di tengah, belum lagi Kwadwo Asamoah yang rajin naik turun membantu pertahanan dan penyerangan. Llorente-Tevez telah menjadi pemain-pemain yang tidak tergantikan dan kualitas penyerangan dan kemampuan menahan bola di depan akan jauh menurun.

Walau begitu, pemain-pemain belakang seperti Martin Caceres dan Angelo Ogbonna seharusnya tidak akan menemui kesulitan. Barisan tengah juga kelihatannya lebih dari cukup untuk mendominasi permainan. Masalahnya, di depan terdapat perbedaan kualitas yang cukup signifikan. Mudah-mudahan setidaknya satu dari Llorente atau Tevez akan dimainkan.

***

Pertandingan ini akan dipimpin wasit Massimiliano Irrati, dibantu oleh hakim garis Filippo Meli dan Salvatore Longo, dengan ofisial keempat Leonardo Baracani.

______________________________________________________________________________________

“I didn’t choose Juve. Juve chose me.” @dwicarta is just an ordinary guy who happens to bleed black-and-white since Roby Baggio wreaked havoc in 1990 World Cup in Italy. When time permits, he’d like to spend it on hoops and one of his passions: writing. One day he stumbled into juventus.theoffside.com and now here he is: doing his passion on his passion.


View the original article here

[Review Coppa Italia] Juventus 3-0 Avellino: Different Men, Same Result

You Are Here: Home » All Articles, Match Review » [Review Coppa Italia] Juventus 3-0 Avellino: Different Men, Same Result

Juventus memulai langkah mereka di ajang Coppa Italia musim ini dengan berjumpa klub Serie  B, tim tamu Avellino. Ini adalah pertemuan kedua tim sejak medio pertengahan 90-an. Juve sendiri punya rekor tak terkalahkan di Juventus Stadium di ajang Coppa Italia, meraih 4 kemenangan dan 2 hasil seri. Pertandingan ini menjadi kesempatan bagi pelatih Antonio Conte untuk memainkan para personel Juve yang lebih jarang diturunkan sebelumnya musim ini.

Marco Storari turun dibawah gawang, sementara Martin Caceres, Angelo Ogbonna dan Federico Peluso berdiri di lini pertahanan di depan Storari. Turun sejak awal di sisi sayap adalah Marco Motta dan Paolo De Ceglie. Claudio Marchisio dan Kwadwo Asamoah menjadi dua nama tim pertama yang turun malam tadi, ditemani oleh Simone Padoin di sektor tengah. Sementara itu, Sebastian Giovinco dan Fabio Quagliarella memimpin serangan Sang Nyonya Tua di depan.

Baru 6 menit pertandingan berjalan, Juventus langsung membuka skor melalui Giovinco. Menerima bola pendek dari Quagliarella sedikit di dalam kotak penalti lawan, Giovinco menghentikan bola dan kemudian melakukan gerakan setengah langkah sebelum melepas bola melengkung ke tiang jauh gawang Giuseppe Di Masi. Sebuah gol indah, yang mengingatkan akan keindahan gol alla Del Piero. 1-0

Tak lama berselang, tepatnya di menit 16, Giovinco menjadi pemberi umpan bagi gol kedua Juventus. Dari situasi bola mati di sisi kiri pertahanan, Giovinco mengirim freekick ke jantung pertahanan Avellino. Martin Caceres yang tak terjaga menyambar bola dan melesakkannya ke pojok atas gawang lawan. Ini adalah gol pertama Caceres musim ini. 2-0

Di menit 30, Avellino hampir saja menipiskan skor. Davide Zappacosta melepaskan umpan silang ke tiang jauh yang disundul Luigi Castaldo, dan beruntung sundulannya dari posisi yang baik hanya menemui sisi luar jala gawang. Tak lama berselang, Juve mendapatkan gol ketiga mereka. Lagi-lagi freekick Giovinco, kali ini dari sisi kanan pertahanan lawan, menjadi pembuka gol. Kali ini Giovinco melepas freekick yang tidak terlalu tinggi ke tiang dekat. Secara tak terduga Quagliarella menyambar umpan ini dengan sundulan ke tiang dekat, yang tidak mampu ditahan oleh kiper De Masi. 3-0

Di babak kedua, pertandingan tetap berjalan searah. Quagliarella melepas freekick berbahaya di menit 58, tapi sayang tembakannya ke pojok atas  gawang masih bisa ditahan De Masi. Tak lama berselang, De Masi kembali menyelamatkan gawang dari sundulan Marco Motta dari jarak dekat.

Di dua puluh menit terakhir pertandingan, Conte mulai memasukkan para pemain pengganti. Yang pertama adalah Ouasim Bouy, menggantikan  Asamoah dan langung bertukar peran dengan Marchisio sebagai pengatur serangan. Di menit 80, Conte membuat dua pergantian: Stephan Lichtsteiner menggantikan Motta, dan Simone Pepe menggantikan Giovinco. Masuknya Pepe mendapat applause luar biasa dari 17,716 suporter yang hadir di Juventus Stadium. Nama terakhir sudah lebih dari satu tahun tidak mencicipi pertandingan resmi karena berkali-kali mengalami cedera.

Akhirnya skor 3-0 tidak berubah hingga akhir pertandingan. Satu catatan baik dari partai ini adalah indah rivalitas antara pendukung tuan rumah dan sekitar 1,400 fans tamu. Kedua tim saling berlomba mengeluarkan nyanyian-nyanyian yang mendukung kedua tim tanpa menghina tim lain. Puncaknya, ketika suporter Juve meneriakkan “Avellino kalian akan segera kembali ke Serie A!”, dan suporter Avellino sebagai rasa hormat menyanyikan beberapa cori Juventus. Bellissimo!

Menurut statistik pemain-pemain Juve yang menonjol adalah Caceres yang menyelesaikan 91 umpan yang akurat; Giovinco yang membuat lima peluang, dan Quagliarella yang menciptakan empat tendangan ke arah gawang. Kebetulan, ketiganya juga masing-masing mencetak satu gol. Selain itu, dengan golnya ini, Quagliarella menjadi satu-satunya pemain Juve yang mencetak gol di tiga kejuaraan musim ini: Serie A, Champions League dan Coppa Italia.

Juventus (3-5-2): Storari; Caceres, Ogbonna, Peluso; Motta (Lichtsteiner), Padoin, Marchisio, Asamoah (Bouy), De Ceglie; Giovinco (Pepe), Quagliarella

Avellino (3-5-2): Di Masi; Izzo, Peccarisi, Pisacane; Zappacosta, D’Angelo, Togni (Schiavon), Arini (Angiulli), Millesi; Herrera, Castaldo (Galabinov)

Wasit: Irrati

Match Highlights

Bentornato Pepe! Forza Juve!

____________________________________________________________________________________

Hit me @adityaregar and ask.fm/adityaregar


View the original article here

[Match Review Giornata 16 Serie A 13/14] Juventus vs Sassuolo – Pelampiasan di Juventus Stadium

You Are Here: Home » - Daily News -, All Articles » [Match Review Giornata 16 Serie A 13/14] Juventus vs Sassuolo – Pelampiasan di Juventus Stadium

Seperti yang diprediksi, Juventus akan melampiaskan amarahnya setelah tersingkir dari penyisihan grup Liga Champions, dan korbannya kali ini adalah Sassuolo. Dengan mendominasi sepanjang pertandingan, Juventus menghancurkan Sassuolo 4-0 di Juventus Stadium. Juventus menguasai ball possession sampai dengan 61%, dengan total 20 shots, 8 diantaranya shots on target.

Kemenangan ini membuat Juventus menjauhkan diri dari kejaran AS Roma yang berada diperingkat 2 dengan selisih 6 poin. Namun jarak tersebut bisa terpangkas kembali menjadi 3 poin jika AS Roma mampu mengalahkan AC Milan dinihari nanti di San Siro.

Conte terpaksa melakukan rotasi di lini tengah karena cederanya Pirlo dan akumulasi kartu Marchisio. Asamoah dikembalikan ke posisi aslinya sebagai LCM, selama ini Asamoah bermain sebagai LWB di Juventus dan hasilnya tidak terlalu maksimal.

Namun ketika dimainkan seperti posisi aslinya di Udinese, terlihat Asamoah bisa tampil lebih maksimal. Pergerakannya sebagai LCM membuat pemain belakang Sassuolo kalang kabut menjaganya, sayang Asamoah tidak beruntung malam itu, beberapa peluang emas mencetak gol belum dapat diselesaikannya dengan baik. Sementara Vidal dan Pogba mendampingi Asamoah di tengah.

Posisi LWB dipercayakan kepada Peluso, yang malam itu tampil luar biasa dengan menyumbangkan 1 gol. Kemudian Isla yang sudah pulih dari cedera kembali menempati posisi RWB. Perlahan Isla mulai menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan formasi 3-5-2 nya Conte. Perlu diingat bahwa saat memperkuat Udinese, Isla adalah RWB terbaik Serie A saat itu. Namun cedera panjang membuatnya perlu waktu kembali kebentuk permainan terbaiknya.

Untuk permainan Vidal dan Pogba tentu semua sudah tahu bagaimana kelas kedua pemain ini, mereka adalah salah satu dari pemain tengah terbaik Eropa saat ini. Peluso dan Isla jarang mendapatkan kesempatan sebagai starter selama ini, tentu saja dengan menjadi starter di pertandingan ini sebagai ajang pembuktian bahwa mereka mampu berkompetisi dengan pemain Juventus lainnya untuk bersaing masuk starting XI Conte.

XI Juventus giornata 16 XI Juventus giornata 16

Meskipun “hanya” menghadapi tim promosi Sassuolo, Conte enggan main-main di pertandingan kandang terkahir tahun ini. Conte tetap menurunkan skuad terbaiknya, Buffon masih ada di bawah mistar gawang, sekaligus melanjutkan rekor clean sheet nya selama 730 menit! Jika dalam pertandingan berikutnya melawan Atalanta di giornata 17 gawang Buffon tetap clean sheet, maka Buffon akan mencatat rekor clean sheet terbaik nomor 3 (820 menit), dibawah Zoff (903 menit – Juventus 1972-1973) dan Rossi (929 menit – AC Milan 1993-1994).

Trio Chiellini-Bonucci-Barzagli menjadi tembok tebal yang mengawal gawang Buffon. Sementara untuk lini depan, Conte tidak mau melewatkan on fire nya duet Tevez dan Llorente yang semakin padu. Kedua striker ini sudah menjadi pemain terbaik bulanan pilihan fans Juventus, November kemarin Llorente didaulat sebagai pemain terbaik pilihan fans.

Llorente - Terbaik November 2013 Llorente – Terbaik November 2013

Sebaliknya Sassuolo berada diperingkat 17 harus berusaha keras untuk dapat bertahan di Serie A. Dengan total poin 14 sampai dengan giornata 16, bahaya degradasi terus mengintai. Sassuolo hanya berjarak 4 poin dengan penghuni dasar klasmen saat ini, Catania.

Dalam skuad Sassuolo sendiri cukup banyak mantan pemain Juventus dan pemain yang dimiliki bersama kedua klub. Sebut saja mantan pemain Juventus seperti Ziegler, Chibsah, sampai pemain dengan kepemilikan bersama yang bersinar disana, Berardi (7 gol), Zaza (5 gol) dan Marrone (1 gol).

Namun Juventus masih terlalu kuat untuk Sassuolo, hasil 4-0 sudah membuktikan perbedaan kekuatan keduanya. Sebaliknya Juventus juga jangan berpuas diri dengan kemenangan ini, karena lawan yang mereka “hanya” Sassuolo, yang memang bukan lawan sepadan.

Berardi & Zaza - masa depan Juventus Berardi & Zaza – masa depan Juventus

Pelatih Sassuolo, Eusebio Di Francesco, mengakui bahwa ada kesenjangan yang besar antara tim nya dengan Juventus. Apalagi dia harus kehilangan striker andalannya, Domenico Berardi, yang juga merupakan pemain yang dimiliki Juventus.

Di Francesco menyebutkan bahwa Juventus memiliki kekuatan fisik serta teknik dan kemampuan untuk merebut bola di daerah pertahanan lawan. Selain itu Juventus juga bermain satu lawan satu, bahkan sampai 3 bek nya melakukan hal serupa dan itu membuat Sassuolo tidak bisa berbuat apa-apa melawan Juventus.

Giornata 16 ini dimulai dengan menggenang kepergian 2 pemain muda Juventus, Ale dan Ricky yang meninggal dunia karena tenggelam di danau buatan komplek latihan Vinovo pada 15 Desember 2006 lalu. Meskipun sudah terjadi 7 tahun yang lalu, namun Ale dan Ricky tidak akan pernah dilupakan sampai kapan pun juga.

Sebelum pertandingan dimulai, pihak klub telah menyiapkan sebuah klip untuk menggenang kepergian Ale dan Ricky yang disaksikan seluruh penonton di Juventus Stadium. Berbagai bentuk dukungan terus dilakukan pihak klub sebagai bentuk dedikasi terhadap 2 pemain muda ini, salah satunya adalah lewat organisasi amal yaitu Alessio Ferramosca, yang sudah banyak menolong anak-anak yang tidak mampu.

Selain itu di Juventus Stadium juga ada yang istimewa, dengan hadirnya 9.000 anak-anak dari berbagai sekolah di Turin yang mengisi Tribun Sud bagian selatan. Ini merupakan bagian dari program “Gioca con me … Tifa con me” yang Juventus lakukan untuk memerangi tindakan rasisme yang terkenal di Serie A selama ini.

Proses terjadinya gol-gol Juventus

Gol pertama Juventus terjadi di menit 15 lewat kaki Tevez. Berawal dari umpan terobosan Isla ke Llorente, kemudian Llorente berhasil mengelabui 2 pemain Sassuolo dengan memberikan umpan matang kepada Vidal yang berada di dalam kotak penalti. Vidal yang ditempel Magnanelli mampu mengecohnya dengan gocekan kelas dunia dan diteruskan dengan tendangan kaki kiri ke gawang Pegolo.

Gol pertama Juventus (Tevez 15") Gol pertama Juventus (Tevez 15?)

Meskipun mampu membaca arah bola namun Pegolo tidak dapat menangkap bola dengan baik dan dengan mudah Tevez segera menyambar bola rebound Pegolo dan membawa Juventus unggul 1-0 atas Sassuolo di babak pertama menit 15. Juventus 1-0 Sassuolo.

Gol kedua Juventus datang dari skema bola mati, Peluso berhasil menyundul umpan dari tendangan bebas Tevez di menit 28. Peluso yang berada dalam kotak penalti melompat lebih tinggi dari pada Antei yang menjaganya dan sundulan kerasnya mengarah ke pojok kanan atas gawang membuat Pegolo tidak sempat bereaksi apa-apa. Juventus 2-0 Sassulo.

Gol kedua Juventus (Peluso 28") Gol kedua Juventus (Peluso 28?)

Gol ketiga Juventus kembali terjadi masih di babak pertama, tepatnya di menit 45 menjelang berakhirnya babak pertama. Tevez mencetak gol keduanya setelah memanfaatkan blunder back pass dari Marzorati ke Pegolo.

Dan saat berhadapan satu lawan satu dengan Pegolo, dengan tenang Tevez melewati Pegolo dan menceloskan bola ke gawang yang sudah kosong. Tevez membawa Juventus semakin jauh dari Sassuolo. Menit 45 babak pertama, Juventus 3-0 Sassuolo.

Gol ketiga Juventus (Tevez 45") Gol ketiga Juventus (Tevez 45?)

Gol keempat Juventus (Tevez 68") Gol keempat Juventus (Tevez 68?)

Gol keempat Juventus terjadi di babak kedua, menit 68 dan Tevez sukses mencatatkan hattrick pertamanya bersama Juventus. Lewat umpan silang yang dilepaskan Isla dari dalam kotak penalti, Tevez tanpa kesulitan menaklukkan Pegolo untuk ketiga kalinya. Juventus membantai Sassuolo 4-0 malam itu.

========================================

========================================

Kemenangan atas Sassuolo menjadi moment yang tepat untuk bangkit pasca kekalahan tragis dari Galatasaray di Liga Champions. Namun yang harus diingat bahwa Sassuolo bukanlah lawan yang sebenarnya untuk Juventus. Perbedaan kualitas kedua tim bagaikan langit dan bumi, sehingga kemenangan 4-0 atas Sassuolo tidaklah terlalu mengherankan banyak pihak.

Juventus masih harus banyak berbenah, terutama dengan gagalnya mereka lolos ke 16 besar Liga Champions musim ini. Persaingan yang ketat di Serie A, mulai bergulirnya Coppa Italia sampai dengan pertandingan yang harus mereka mainkan di Liga Europa, sungguh perjalanan Juventus masih panjang musim ini. Yang pasti, kami semua bersamamu Juve!

========================================


View the original article here

[Preview Serie A] Atalanta – Juventus: Penutup Tahun Yang Manis

Juventus akan menutup tahun 2013 dengan bertandang ke Bergamo untuk menghadapi tuan rumah Atalanta. Tentu saja, tak lain tak bukan Juventus akan mengincar sebuah kemenangan untuk penutup tahun yang indah di Serie A. Sebuah kemenangan akan menjaga jarak antara Juventus dan peringkat kedua AS Roma. Tiga poin menjadi sangat penting mengingat: 1. Roma yang akan menghadapi juru kunci Catania, sangat bisa diasumsikan akan meraih poin penuh di kandang mereka sendiri. 2. Juve dan Roma akan membuka tahun 2014 dengan saling berhadapan pada 6 Januari mendatang.

Atalanta memang belum pernah menang dalam 4 pertandingan terakhir di Serie A, tetapi mereka mempunyai rekor kandang yang cukup impresif untuk ukuran klub peringkat 14 Serie A. Mereka baru kalah 1 kali dari 7 partai kandang mereka sejak awal musim. Selain mengalahkan Torino dan Lazio, mereka juga mampu menahan imbang  merda dan yang paling anyar mengimbangi Roma. Akan tetapi bukan Juventus kalau tidak mempunyai rekor yang tak kalah impresif. Tak perlu disebutkan lagi 8 streak kemenangan I Bianconeri di Serie A. Pun juga dengan 8 clean sheet yang menyertai kemenangan itu. Faktanya, Atalanta selalu takluk setiap kali berjumpa Sang Nyonya Tua, baik di kandang maupun tandang sejak mereka promosi kembali ke Serie A pada 2011/12. Terakhir Juve yang turun dengan kebanyakan tim lapis kedua, karena sudah memastikan gelar scudetto di tangan, menaklukkan Atalanta 1-0 di Stadio Atleti Azzuri d’Italia berkat gol super Alessandro Matri. Begitu pula ketika sebelumnya mereka berjumpa di Serie A pada musim 2009/10, dua kali Atalanta juga menelan kekalahan dari Juve. Superior? Ya. Jumawa? Jangan sampai.

The Opponents

Atalanta masih ditangani oleh pelatih Stefano Colantuono yang menukangi mereka sejak mereka masih di Serie B. Colantuono pun memuji Sang Nyonya Tua yang dianggapnya adalah klub terbaik di Italia. Kendati demikian, ia menyatakan keinginannya untuk bermain baik dan mencuri poin dari genggaman Juve.

“Juventus adalah klub terbaik, yang memiliki skuad dan manajer terbaik. Mereka bermain lebih baik daripada dua musim sebelumnya dan tidak mengejutkan jika mereka terus menang. Saya tahu Conte dan ia tidak akan melepas kakinya dari pedal gas. Akan tetapi kami akan mencoba mengulangi penampilan kami melawan Roma, walaupun kami tahu kami akan menghadapi tim yang jauh lebih kuat daripada Roma. Kami akan mencoba mencuri hasil dari Juve.”

Colantuono sendiri biasa memakai pakem 4-4-1-1, mengandalkan lini serang mereka pada Giacomo Bonaventura bermain di belakang tukang gedor andalan mereka, German Denis. Tapi untuk mengimbangi pola permainan Juve, kabarnya Colantuono siap membayangi formasi 3-5-2 Juventus. Apalagi Bonaventura sendiri belum fit setelah cedera ringan yang dialaminya, walaupun dirinya masuk ke dalam skuad yang dipersiapkan Colantuono. Juventus juga harus berharap agar kiper mereka, Andrea Consigli tidak bermain apik malam ini. Kali terakhir kedua tim bertemu, Consigli berkali-kali melakukan penyelamatan yang baik, membuat gawangnya hanya mampu kebobolan 1 gol.

Berikut adalah skuad Atalanta yang dipersiapkan tuan rumah dan berisikan 24 pemain:

Baselli, Bonaventura, Brienza, Brivio, Canini, Carmona, Cazzola, Cigarini, Consigli, De Luca, Del  Grosso, Denis, Gagliardini, Giorgi, Kone, Livaja, Marilungo, Migliaccio, Moralez, Polito, Raimondi, Scaloni, Sportiello, Stendardo

Perkiraan starting line up Atalanta:

(3-5-2):  Consigli; Cazzola, Stendardo, Canini; Brivio, Migliaccio, Carmona, Cigarini, Kone; Moralez, Denis

La Squadra Bianconera

Colantuono sendiri tidak salah ketika dia menyatakan keyakinannya bahwa Antonio Conte tidak akan melepas pedal gas. Seperti yang sudah disebutkan di atas, Juventus memiliki lebih dari cukup alasan untuk meraih poin penuh. Jangan lupa juga, sebagian besar pemain utama mereka tidak diturunkan pada laga Coppa Italia kontra Avellino midweek lalu. Hanya Kwadwo Asamoah dan Claudio Marchisio yang diturunkan Conte sejak awal ketika itu. Jadi skuad memiliki istirahat cukup untuk tampil all out pada partai terakhir sebelum winter break ini. Hanya ada 3 pemain yang tidak dibawa Conte ke Bergamo: Mirko Vucinic, Simone Pepe dan Andrea Pirlo. Untuk menutup absennya Pirlo, Conte akan kembali mengandalkan trio Marchisio, Paul Pogba dan tentunya Arturo Vidal. Sementara Carlos Tevez dan Llorente akan kembali berduet di lini depan.

Berikut adalah daftar lengkap 22 pemain Juventus yang dibawa ke Bergamo oleh Conte:

1 Buffon, 3 Chiellini, 4 Caceres, 5 Ogbonna, 6 Pogba, 8 Marchisio, 10 Tevez, 11 De Ceglie, 12 Giovinco, 13 Peluso, 14 Llorente, 15 Barzagli, 16 Motta, 19 Bonucci, 20 Padoin, 22 Asamoah, 23 Vidal, 26 Lichtsteiner, 27 Quagliarella, 30 Storari, 33 Isla, 34 Rubinho

Perkiraan starting line up Juventus:

(3-5-2): Buffon; Barzagli, Bonucci, Chiellini; Lichtsteiner, Vidal, Pogba, Marchisio, Asamoah; Tevez, Llorente

Match Prediction

Tanpa tedeng aling-aling, Juventus masih terlalu kuat untuk Atalanta. Betul kata Colantuono, Juventus masih jauh di atas Atalanta dalam segala hal. Akan tetapi, lepas fokus dan ini bisa berakibat runyam bagi Juve. Atalanta akan berusaha bertahan dan mengincar serangan balik. Skema lawan yang membayangi Juventus bukan hal baru lagi. Juve harus mewaspadai German Denis. Dengan 6 gol musim ini dan 15 gol musim lalu, tak diragukan lagi pria ini adalah penggedor utama La Dea. Bisa jadi, ia adalah predator murni paling tajam yang akan dihadapi Juventus sejak beberapa pertandingan terakhir. Paul Pogba dan Arturo Vidal akan menjadi kunci di lini tengah dalam mengendalikan permainan. Terakhir, ketajaman Carlos Tevez akan menjadi harapan terbesar Juventus dalam menyelesaikan pertandingan. Tapi jangan lupakan Fernando Llorente yang bisa menjadi kartu truf, khususnya dalam memberikan umpan bagi rekan-rekan setimnya.

Score prediction: Atalanta 0-2 Juventus

____________________________________________________________________________

Hit me @adityaregar and ask.fm/adityaregar

PS: Even though you’re the other Nerazzurra, you’re still going down bros..


View the original article here

[Preview Serie A] Juventus – Sassuolo: Saatnya Bangkit Dan Kembali Menang

You Are Here: Home » All Articles, Match Preview » [Preview Serie A] Juventus – Sassuolo: Saatnya Bangkit Dan Kembali Menang

Juventus kembali menatap kompetisi Serie A untuk melupakan kekecewaan gugurnya mereka dari Champions League. Mereka akan menjamu tim promosi Sassuolo di Juventus Stadium. Kick off sendiri diundur dari hari Sabtu malam menjadi Minggu malam waktu setempat (Senin diri hari WIB) akibat tertundanya partai terakhir Juve tengah pekan lalu. Sassuolo sendiri baru musim ini mencicipi Serie A, kasta tertinggi sepakbola Italia dan ini akan menjadi pertemuan pertama kedua tim di kompetisi resmi. Kedua tim sudah bertemu pada awal musim dalam ajang Trofeo TIM dimana Sassuolo menjadi pengganti peserta reguler, intermerda. Kala itu, dalam 45 menit kedua tim bermain imbang tanpa gol, dan Juve menang berkat kehebatan kiper ketiga, Rubinho dalam situasi adu penalty.

Kali ini Sassuolo melawat ke Juventus Stadium dengan kondisi yang lebih meyakinkan. Mereka menjadi satu-satunya tim Serie A yang meraih poin tandang sama dengan poin di kandang (masing-masing 7 poin). Sementara hanya ada satu tim dengan raihan poin tandang lebih baik yaitu Chievo (8 & 7 poin). Mereka memang baru menang sekali di tandang, tetapi kemampuan mereka menahan imbang tuan rumah cukup menonjo. Sassuolo mencetak 1 gol lebih banyak di kandang lawan dan kebobolan 3 gol lebih sedikit dibanding ketika mereka bermain di Mapei Stadium. Sassuolo belum terkalahkan dalam 4 partai tandang terakhir mereka. Salah satunya ketika mengalahkan Sampdoria 4-3 di Luigi Ferraris. Sassuolo juga menunjukkan bahwa mereka merepotkan tim-tim papan atas di kandang mereka, dengan menahan imbang dua dari tiga tim teratas Serie A. Mereka menahan imbang Napoli di San Paolo dan Roma di Olimpico, keduanya dengan skor imbang 1-1. Tentunya selanjutnya mereka mengincar pemuncak klasemen, Juventus. Tapi dengan catatan impresif Juventus, 7 kemenangan tanpa kebobolan, akankah ombak dari Emilia-Romagna mampu meruntuhkan batu karang dari Piedmonte?

The Opponents

Tim asuhan Eusebio di Francesco ini berada satu poin dari zona degradasi dengan raihan 14 poin. Tentunya mereka akan berusaha untuk menjadi zona tersebut. Salah satunya dengan jumlah kebobolan. Mereka kebobolan 28 gol dalam 11 pertandingan pertama di Serie A, tetapi hanya kebobolan 4 gol dalam 4 partai terakhir mereka. Di Francesco sendiri bukan nama asing di Serie A. Ia menjadi langganan di AS Roma dan menghabiskan belasan tahun bersama tim ibukota tersebut sebelum pensiun pada 2005.

Beberapa nama dalam skuad asuhan di Francesco juga tidak asing bagi Juventus karena setengah dari hak kepemilikan mereka dimiliki Juve. Yang mengesankan ketiga nama ini berkesempatan untuk merepotkan Juventus. Nama pertama adalah Luca Marrone. Pemuda kelahiran Turin ini adalah produk akademi Juventus yang sekarang dimiliki bersama dengan Sassuolo. Ia menjadi bagian Juve dalam meraih dua scudetto berturut-turut. Saat ini ia menjadi salah satu andalan Sassuolo di lini tengah dan menjadi pencetak assist terbanyak dengan 3 assists. Ini menjadi bukti ketepatan transfer Juventus karena alasan pertama setengah kepemilikannya diberikan pada Sassuolo adalah kesempatan bermain lebih banyak untuk perkembangan dirinya.

Alasan kedua adalah pembelian setengah kepemilikan nama berikut: Domenico Berardi. Pemain 19 tahun ini adalah talenta luar biasa di lini depan. Ia menjadi top skorer tim dengan 7 gol yang membuatnya menjadi pemain muda debutan terbaik dalam 20 tahun terakhir, setelah Alessandro Del Piero yang mencetak 5 gol dalam musim debutnya di Juventus. Beruntung Berardi tidak akan tampil malam ini karena terganjal akumulasi kartu. Sedangkan nama terakhir adalah Simone Zaza. Penyerang muda ini juga dimiliki setengah oleh Juventus. Ia menjadi pencetak gol terbanyak kedua setelah Berardi dengan 5 gol. Besar kemungkinan malam ini Zaza akan ditemani penyerang veteran Antonio Floro Flores di lini depan. Di Francesco biasanya menggunakan skema 4-3-3. tapi jangan kaget bila di Francesco mengubah skema menjadi 3-5-2, seperti ketika mereka menahan imbang Roma dan Lazio, atau 4-3-3 ketika menghadapi Napoli. Berikut nama-nama pemain Sassuolo yang dibawa ke Turin:

Pegolo, Pomini, Antei, Bianco, Gazzola, Longhi, Marzorati, Pucino, Rossini, Ziegler, Chibsah, Kurtic, Laribi, Magnanelli, Marrone, Missiroli, Schelotto, Valeri, Alexe, Farias, Floro Flores, Masucci, Zaza.

Prediksi starting line up Sassuolo:

(3-5-2) Pegolo; Antei, Bianco, Acerbi; Gazzola, Magnanelli, Marrone, Missiroli, Longhi; Zaza, Floro Flores

La Squadra Bianconera

Antonio Conte mempersiapkan 21 nama untuk menghadapi Sassuolo. Menghilang dari skuad adalah Claudio Marchisio (akumulasi kartu), Mirko Vucinic, Andrea Pirlo (cedera), dan Simone Pepe (pemulihan). Conte sendiri berharap skuad akan tetap fokus di Serie A setelah gugur di Champions League. Juve memang punya tren untuk segera bangkit dengan kemenangan setelah kalah di Serie A maupun Champions League. Selain beberapa cedera yang menimpa skuad, agaknya Conte akan mengistirahatkan beberapa pemain yang turun di laga kontra Galatasaray. Dalam wawancaranya di Vinovo kemarin, Conte memberikan hint bahwa Kwadwo Asamoah akan turun di tengah akibat absennya Pirlo dan Marchisio. Sementara itu pos kiri akan diisi Federico Peluso. Di depan, muncul kabar bahwa Fernando Llorente akan diistirahatkan dan tempatnya diisi oleh Fabio Quagliarella. Sementara, di lini belakang trio B-B-C akan tetap turun sejak awal.

Berikut skuad yang dipersiapkan Conte:

Buffon, Storari, Rubinho; Chiellini, Caceres, Ogbonna, De Ceglie, Peluso, Motta, Bonucci, Barzagli, Lichtsteiner; Pogba, Padoin, Asamoah, Vidal, Isla; Tevez, Giovinco, LLorente, Quagliarella.

Prediksi starting line up Juventus:

(3-5-2) Buffon; Barzagli, Bonucci, Chiellini; Lichtsteiner, Vidal, Pogba, Asamoah, Peluso; Tevez, Llorente

Match Prediction

Juventus akan terlalu kuat untuk Sassuolo. Mereka memang punya kemampuan untuk mengejutkan di Juventus Stadium, tetapi agaknya tidak cukup untuk membuat Juve terjungkal. Bahkan dengan absennya Pirlo dan Marchisio di lini tengah, Sassuolo akan kesulitan meladeni Juve. Absennya Berardi akan cukup berpengaruh bagi Sassuolo karena ia tipe pemain yang mampu menciptakan peluang bagi diri sendiri dan rekan setimnya. Zaza dan Floro Flores. kendati tidak se-mobile Berardi, bisa berbahaya khususnya bila kelengahan di lini pertahanan Juventus kembali muncul. Overall, batu karang Piedmonte masih terlalu kokoh untuk dihempaskan ombak dari Emilia-Romagna.

Score prediction: Juventus 2-0 Sassuolo

______________________________________________________________________________

Hit me @adityaregar and ask.fm/adityaregar

PS: Glad and dissapointed Berardi won’t be there at Juventus Stadium tonight…


View the original article here

[Calciopoli] Racalbuto to Meani: “When in Doubt I Whistle Against Juventus!”

You Are Here: Home » All Articles, Calciopoli » [Calciopoli] Racalbuto to Meani: “When in Doubt I Whistle Against Juventus!”

Galliani_MeaniItulah kata-kata Salvatore Racalbuto, salah satu wasit Serie A (saat itu), kepada Leonardo Meani, perwakilan AC Milan (saat itu) yang bertugas untuk berhubungan dengan para wasit Serie A, yang tertangkap oleh rekaman dan menjadi bukti dalam persidangan banding mantan Direttore Sportivo (DS) Juve Luciano Moggi di Naples atas kasus calciopoli 2006.

Keduanya bercakap-cakap cukup lama membahas pertandingan tanggal 5 Maret 2005 antara Roma vs. Juventus yang berkesudahan Roma 1-2 Juve. Racalbuto juga meminta maaf kepada Meani bahwa dia tidak jadi menjadi wasit dalam pertandingan ini karena pertandingan ini “hot potato”, beresiko tinggi. Kata-kata inilah (dan beberapa bukti-bukti lainnya) yang kemudian dipakai oleh para pengacara Moggi untuk menyangkal bahwa Racalbuto adalah “kaki-tangan” Moggi.

Saat itu, kompetisi memasuki masa akhir dan Milan sedang menempel ketat Juve di puncak klasemen dimana pada akhirnya, Juve meraih scudetto musim 2004/05 dan Milan menjadi runners-up. Dari percakapan ini, bisa dilihat bahwa Milan dan Racalbuto memiliki hubungan yang baik.

Sebelumnya Paolo Bergamo, referee designator (saat itu), terekam mengatakan bahwa dia adalah seorang milanista. Seperti yang Signora1897 ers telah ketahui, pada bulan September 2011 harian Italia Tuttosport menerbitkan artikel yang berisi rekaman pembicaraan antara Bergamo dengan Pasquale Rodomonti, wasit di partai Inter Milan vs. Juventus tanggal 26 November 2004 dan Bergamo dengan jelas menginstruksikan Rodomonti untuk memberi keuntungan kepada Inter Milan dan BUKAN Juventus.

Dengan bukti-bukti ini, dalam sidang banding ini pengacara Moggi Paolo Trofino berargumen bagaimana mungkin Moggi menjadi otak atau dalang dari farsopoli.

Dan dengan bukti-bukti ini, hukuman penjara Moggi yang seharusnya lima tahun empat bulan dikurangi menjadi dua tahun dan empat bulan (kemungkinannya kecil sekali Moggi akan benar-benar dihukum penjara).

Yang menarik adalah hukuman untuk Bergamo ternyata ditangguhkan dan akan dilakukan dalam persidangan yang terpisah. Apabila Bergamo dinyatakan tidak bersalah, jadi dengan siapakah Moggi melakukan farsopoli?

Dengan hasil ini, Moggi masih dapat melakukan satu kali banding lagi di Italia dan kemudian, apabila tetap tidak puas, dapat melakukan banding ke pengadilan Uni Eropa.

***

Lalu bagaimanakah hubungannya dengan dua scudetti Juve yang dirampas (satu oleh Inter Milan dan satu lagi dikosongkan)? Menurut penulis, perjalanan menuju keadilan ini masih cukup jauh tetapi setidaknya, muncul lagi bukti yang melemahkan teori bahwa Moggi adalah otak/dalang farsopoli dan ternyata ada tim lain yang jauh lebih terlibat.

Secara logika, bagaimana mungkin Moggi menjadi dalang farsopoli saat para wasit mengatakan mereka tidak akan menguntungkan Juve? Mereka mengatakan akan menguntungkan tim lain, BUKAN Juventus.

Secara logika, bagaimana mungkin Moggi menjadi dalang farsopoli saat Adriano Galliani yang menjadi wakil presiden Lega Serie A? Kepada Lega Serie A inilah para wasit ini bertanggung-jawab.

Secara logika, bagaimana mungkin Moggi menjadi dalang fasopoli dimana seorang direktur Inter Milan, Marco Tronchetti-Provera, menjadi direktur Telecom Italia (saat itu)? Dari Telecom Italia lah rekaman-rekaman yang memberatkan Moggi muncul.

Dan jangan lupa, rekaman-rekaman yang melibatkan Inter Milan baru muncul setelah pengacara-pengacara Moggi memeriksa seluruh rekaman percakapan yang ada, bukan hanya yang memberatkan Moggi (dan Juventus) dan ternyata, Inter Milan lah yang melanggar aturan (halaman 61) dengan mencoba untuk mempengaruhi hasil pertandingan, BUKAN Juventus.

Jadi Signora1897 ers, perjalanan masih panjang tetapi sabar itu subur dan mari kita doakan semoga pada akhirnya, kebenaran akan terungkap.

Ieri… Oggi… Domani… Sempre Juve!!!

______________________________________________________________________________________

“I didn’t choose Juve. Juve chose me.” @dwicarta is just an ordinary guy who happens to bleed black-and-white since Roby Baggio wreaked havoc in 1990 World Cup in Italy. When time permits, he’d like to spend it on hoops and one of his passions: writing. One day he stumbled into juventus.theoffside.com and now here he is: doing his passion on his passion.


View the original article here

Monday, November 18, 2013

[Preview Serie A Giornata 05] Chievo vs Juventus: Defense Wins Championships

You Are Here: Home » All Articles, Match Preview » [Preview Serie A Giornata 05] Chievo vs Juventus: Defense Wins Championships

LIVE di TVRI: Chievo vs Juventus, Kamis, 26 September 2013 01.45 WIB.

______________________________________________________________________________________

Table_Giornata04Setelah unggul tipis dari Hellas Verona 2-1 hari Minggu kemarin, Juve harus bertandang ke tim kota Verona yang lain, Chievo, hari Rabu ini. I Bianconeri memasuki giornata kelima ini dengan tujuan meraih angka penuh supaya tidak tertinggal makin jauh dari Napoli dan Roma dimana Napoli akan menjamu Sassuolo dan Roma bertandang ke Sampdoria.

CHIEVO

Musim ini, dari dua pertandingan kandang, rekor Chievo adalah satu kali menang (2-1 vs Udinese) dan satu kali kalah (2-4 vs Napoli). Tidak seperti di musim-musim sebelumnya dimana pertahanan Chievo cukup sulit ditembus, musim ini mereka telah kebobolan delapan gol dan baru meraih kemenangan di giornata keempat.

Memang, pergantian pelatih dan formasi, dari Domenico Di Carlo dan Eugenio Corini dengan 3-5-2/5-3-2 ke Giuseppe Sannino dengan 4-4-2 tidaklah mudah. Apalagi Chievo juga kehilangan pilar di belakang seperti Bojan Jokic (ke Villareal) dan Marco Andreolli (ke Inter Milan).

Selain itu, pergantian kiper juga sedikit banyak berpengaruh. Christian Puggioni adalah kiper yang baik tetapi belumlah sebaik Stefano Sorrentino yang hengkang ke Palermo pertengahan musim lalu.

Formation_Chievo

Namun menurut gosip, kemungkinan Sannino akan mengembalikan formasi ke 5-3-2 untuk menahan laju Juve dan mencoba mematikan Andrea Pirlo, yang kurang efektif saat melawan Verona. Selain itu, tidak dapat dipungkiri, permainan keras telah menjadi ciri khas Chievo dan dengan Juve tengah menjalankan tujuh partai dalam 23 hari, hal ini tentu menjadi ancaman serius.

Alberto Paloschi, pemain bersama antara Chievo-Milan, tidak boleh dipandang enteng. Dia adalah striker oportunis yang rajin bergerak di dalam kotak penalti. Dua golnya ke gawang Napoli menunjukkan kualitasnya. Saat Paloschi telah lelah atau Chievo ingin mengejar hasil, Sannino dapat mengandalkan Sergio Pellissier, super-sub yang kerap menjadi momok bagi Juve. Di umurnya yang telah 34 tahun, Pellisier memang sudah kehilangan stamina tetapi saat dia menjadi starter vs Udinese, dia mampu mencetak gol dan membantu memenangkan timnya.

Perkiraan susunan pemain (5-3-2): Puggioni; Sardo, Frey, Bernardini, Cesar, Drame; Radovanovic, Rigoni, Sestu; Paloschi, Thereau.

26 Pemain Chievo yang Dipanggil:

Portieri: ?1 Puggioni, 18 Squizzi, 28 ?SilvestriDifensori:? 2 Bernardini, 4 Claiton, 12 ?Cesar, 15 ?Pamic, ?17 Sardo, ?21 Frey, 33 ?Papp, ?93 DramèCentrocampisti:? 6 Kupisz, 7 Lazarevic, 8 Radovanovic, 9 Bentivoglio, 10 Sestu, 14 Calello, 16 Improta, 20 Estigarribia, 22 ?Acosty, ?27 RigoniAttaccanti: ?11 Samassa, 31 ?Pellissier, ?43 Paloschi, 77 ?Théréau, ?90 Ardemagni

Salah satu pemain inti Chievo, Perparim Hatemaj, tidak dibawa kemungkinan karena cedera.

JUVENTUS

Satu hal yang paling menarik bagi penulis saat pelatih Antonio Conte melakukan konferensi pers kemarin menjelang pertandingan Chievo-Juve. Dia mengatakan bahwa pertahanan harusnya menjadi senjata terbaik Juve. Penulis sangat setuju. Buat penulis, defense wins championships dan begitulah umumnya tim Juve memenangkan trofi. Juve boleh punya Platini, Baggio, Del Piero, tetapi tetap, pertahanan-lah yang menjadi “nyawa” Juventus.

Topik ini muncul mengingat Juve telah kebobolan tiga gol dalam empat pertandingan liga, dua dari blunder dan satu dari koordinasi pertahanan yang tidak baik saat menghadapi bola mati. Memang, beberapa kali pertahanan Juve tampak goyah saat menghadapi bola mati. Selain itu, speed pertahanan juga beberapa kali terekspos.

Di tiga pertandingan terakhir, saat melawan Inter Milan, Copenhagen, dan Verona, Juve juga selalu kebobolan terlebih dahulu karena faktor-faktor yang telah disebut di atas dan dua dari tiga pertandingan tersebut, Juve gagal meraih kemenangan.

OgbonnaDisinilah pentingnya rotasi dan bek tengah yang memiliki kecepatan baik seperti Martin Caceres dan Angelo Ogbonna (tapi sayang, Caceres cedera). Tiga bek tengah Juve Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini bukanlah bek-bek yang memiliki kecepatan yang baik dan mengandalkan teknik, antisipasi, dan pengalaman. Apalagi Barzagli telah berusia 32 tahun dan Chiellini kerap mengalami gangguan fisik. Biasanya, permainan mereka di awal musim belum baik dan memerlukan waktu untuk “panas”.

Dalam konferensi persnya, pelatih Antonio Conte mengisyaratkan bahwa dia akan kembali melakukan rotasi dan para media memperkirakan Conte akan menurunkan trio Ogbonna-Bonucci-Chiellini dalam pertandingan ini. Barzagli yang bermain penuh tiga hari yang lalu diistirahatkan dan Chiellini yang tidak bermain melawan Verona akan bermain malam ini.

Di lini tengah, penulis memperkirakan tiga starter Arturo Vidal-Pirlo-Paul Pogba akan dipertahankan, walaupun tidak tertutup kemungkinan salah satunya akan digantikan oleh Claudio Marchisio. Di bek sayap kanan, Stephan Lichtsteiner yang istirahat saat melawan Verona kemungkinan akan kembali menjadi starter sedang di bek sayap kiri, kemungkinan Kwadwo Asamoah perlu menarik napas sejenak dan tidak bermain sejak awal. Apabila tidak, kemungkinan Federico Peluso-lah yang akan menggantikan.

Di depan, Carlos Tevez sulit digantikan dan mengingat adanya laga penting Juventus-Galatasaray pertengahan minggu depan, kemungkinan dia baru akan diistirahatkan saat melawan Torino Sabtu ini. Pasangannya di depan masih menjadi tanda tanya, apakah Mirko Vucinic yang tidak efektif saat melawan Verona, Fernando Llorente yang mencetak gol tetapi belum maksimal, atau Fabio Quagliarella yang dapat mencetak gol dari mana saja tetapi kerap kehilangan bola.

Perkiraan susunan pemain (3-5-2): Buffon; Ogbonna, Bonucci, Chiellini; Lichtsteiner, Vidal, Pirlo, Pogba, Peluso; Llorente, Tevez.

23 Pemain Juve yang Dipanggil:

Portieri: ?1 Buffon, 30 Storari, 35 VannuchiDifensori:? 3 Chiellini, 5 Ogbonna, 11 De Ceglie, 13 Peluso, 15 Barzagli, 16 Motta, 19 Bonucci, 26 Lichtsteiner, 33 IslaCentrocampisti:? 6 Pogba, 8 Marchisio, 20 Padoin, 21 Pirlo, 22 Asamoah, 23 VidalAttaccanti: ?9 Vucinic, 10 Tevez, 12 Giovinco, 14 Llorente, 27 Quagliarella

***

Banyak media memperkirakan Conte akan menyimpan Bonucci, Vidal dan Tevez tetapi terus terang, penulis tidak setuju. Ketiga pemain tersebut mungkin adalah tiga pemain terbaik sejauh ini dan setidaknya dua dari tiga pemain tersebut harus bermain. Apabila ketiganya disimpan, penulis ragu Juve dapat meraih angka penuh. Namun siapapun yang bermain, permainan pressing dan tanpa blunder mutlak diperlukan apabila kita tidak mau tertinggal lebih jauh dari Napoli dan Roma. Defense wins championships.

Barzagli_Bonucci_Chiellini_Buffon

Forza Juve!!!

______________________________________________________________________________________

“I didn’t choose Juve. Juve chose me.” @dwicarta is just an ordinary guy who happens to bleed black-and-white since Roby Baggio wreaked havoc in 1990 World Cup in Italy. When time permits, he’d like to spend it on hoops and one of his passions: writing. One day he stumbled into juventus.theoffside.com and now here he is: doing his passion on his passion.

View the original article here

View the original article here

View the original article here


View the original article here

Sunday, November 17, 2013

[Daily News 15/11/13] Stabilitas Ekonomi di Juventus, Revolusi di kota Milan!

You Are Here: Home » - Daily News -, All Articles » [Daily News 15/11/13] Stabilitas Ekonomi di Juventus, Revolusi di kota Milan!

Signora1897 ers, tanggal 13 November kemarin the Board of Directors (BoD) Juventus menyetujui angka finansial Q1 musim 2013/14, yaitu masa 01 Juli 2013 hingga 30 September 2013.

BoD_30Sep2013

Dari tabel di atas, dapat dilihat pengeluaran Juve meningkat sekitar 6m (56m – 49.3m) dibandingkan pengeluaran masa yang sama musim kemarin (karena belanja pemain dan gaji) namun pemasukan Juve hampir tidak berubah dibandingkan dengan pemasukan di masa yang sama musim kemarin dan BoD juga memproyeksikan bahwa Juve masih akan mengalami kerugian di musim ini.

Menurut penulis, hingga dua tahun ke depan kemungkinan kondisi ini tidak banyak berubah. Kondisi finansial Juve baru akan meningkat tajam mulai musim 2015/16, saat Continassa mulai dibuka, kerjasama dengan Adidas, dan sponsor baru pengganti Jeep dimulai.

Walau begitu, penulis yakin dalam masa dua tahun sebelum memasuki musim 2015/16 nanti, kondisi keuangan Juve akan stabil dan kokoh menunjang prestasi di atas lapangan hijau, setidaknya di kompetisi dalam negri.

***

Dengan dipanggilnya 12 pemain Juve oleh timnas mereka masing-masing, pemain yang tersisa, ditambah dengan pemain-pemain primavera, melakukan pertandingan persahabatan dengan tim Serie D Asti. Juve memenangkan pertandingan dengan skor 7-0 lewat gol-gol Mirko Vucinic (2), Fabio Quagliarella (2), Sebastian Giovinco, Marco Motta dan Simone Padoin.

Vidal-fehlt-Chile-gegen-England-und-Brasilien_teaser_620x420Selain itu, Arturo Vidal direncanakan telah berlatih kembali dengan Juve pagi hari ini setelah dipulangkan oleh tim medis Chile (dari London menjelang partai Inggris-Chile) untuk melakukan pemulihan dari cedera ringannya (diperkirakan absen 7-8 hari sejak Senin kemarin). Vidal diprediksi segera dapat bermain lagi seusai international week ini melawan Livorno walau kemungkinan tetap diistirahatkan untuk menghadapi Copenhagen tiga hari kemudian di partai penting Champions League.

Dari London, Vidal menyatakan kekecewaannya tidak dapat membela Chile di dua laga persahabatan melawan Inggris dan Brazil di international week ini tetapi dia berharap agar cepat pulih sehingga dapat segera bermain untuk Juve.

***

Kembali ke Turin. Dengan hukuman penutupan Curva Nord satu pertandingan dan Curva Sud untuk dua pertandingan karena perlakuan diskriminasi teritori oleh para ultras saat Juve menjamu Napoli, harian Tuttosport memberikan masukan yang sepertinya akan disetujui oleh Lega Serie A. Daripada kosong, harian kota Turin tersebut mengeluarkan ide supaya pada pertandingan Juve-Udinese, kedua curva tersebut diisi oleh anak-anak. Perwakilan CONI (Badan Olahraga tertinggi di Italia) dan FIGC telah menyerukan persetujuannya.

***

Dengan minimnya berita Juve karena international week, mari kita melirik sejenak ke kota Milan.

new_Milan_HQAC Milan baru saja meresmikan markas baru mereka, pindah dari markas lama di via Turati ke via Rossi. Apabila jarak antara via Turati ke Stadio San Siro adalah 7.3km, maka jarak antara via Rossi dengan stadion hanya 2.4km.

Namun, beserta dengan markas baru ini, gonjang-ganjing pergantian pimpinan juga berhembus kencang.

Milan, yang musim ini terpuruk di posisi ke-10 dan tertinggal 19 poin dari pimpinan sementara AS Roma, terus digonjang-ganjing isu perbedaan pendapat antara VP Adriano Galliani dan anak pemilik, Barbara Berlusconi. Apabila tadinya pelatih Max Allegri yang paling banyak dihujat oleh milanisti (setidaknya oleh beberapa oknum yang berpandangan sempit di media sosial), maka belakangan ini ketegangan di puncak pimpinan-lah yang menyita perhatian.

Galliani memang legenda yang telah memimpin Milan sejak 1986 (!) dan mendatangkan Marco van Basten, Ruud Gullit, George Weah, Dejan Savicevic, Zvonimir Boban, Kaka 1.0 dan banyak lainnya tetapi belakangan “hanya mampu” menghadirkan Kevin Constant, Matias Silvestre, Valter Birsa, dan lain-lain. Memang dia masih bisa mendatangkan Mario Balotelli dan Kaka 2.0 tetapi yang lain? Jauh dari harapan.

Barbara Berlusconi, yang memang semakin sering tampil di tribun menyaksikan penampilan Milan, akhirnya mulai melakukan pergerakan musim ini. Para media Italia meyakini bahwa Barbara “gerah” dengan situasi ini dan memprediksi bahwa ini adalah musim terakhir Galliani sebagai VP Milan. Musim depan, posisi tertinggi (dibawah sang pemilik, Silvio Berlusconi, tentu saja) akan diambil alih oleh Barbara dan Galliani akan memfokuskan dirinya di ajang politik, bergabung dengan partai Forza Italia yang juga milik Silvio Berlusconi.

Menurut gosip, Milan dibawah Barbara akan melakukan perombakan besar-besaran, dengan rencana “membajak” Claudio Fenucci (Roma) sebagai managing director dan Daniele Prade (Fiorentina) sebagai direktur sport. Tidak ketinggalan, Paolo Maldini juga akan diberikan posisi penting dalam manajemen. Untuk pelatih, kemungkinan besar Max Allegri juga akan diganti, dengan calon terkuat Clarence Seedorf dan diikuti oleh Pippo Inzaghi.

Sepertinya, Barbara ingin mengikuti model Juventus: MD yang pintar berpikir dari sisi ekonomi seperti Beppe Marotta, DS yang ahli menilai talenta seperti Fabio Paratici, legenda yang ditunjuk menjadi penghubung seperti Pavel Nedved, dan juga legenda yang ditunjuk menjadi pelatih seperti Antonio Conte.

Model yang sama, tetapi apakah hasil juga sama? Tidak semudah itu tetapi mari kita saksikan saja sejauh manakah langkah Milan dengan pemimpin-pemimpin baru ini.

***

Apabila Milan melakukan revolusi di bawah pimpinan lama, maka di Inter Milan terjadi perubahan di puncak. Massimo Moratti secara resmi telah menjual sebagian besar sahamnya kepada konsorsium asal Indonesia yang dipimpin oleh Erick Thohir. Moratti, yang masih memiliki saham 28.3%, juga telah menyatakan bahwa Thohir akan menjadi presiden baru.

Menurut gosip yang beredar, Thohir dkk akan menguasai 70% saham dan menempatkan lima-enam orang di BoD. Anak Moratti, Angelomario, juga akan menjadi anggota BoD dan kemungkinan menjadi VP/wakil presiden. Moratti sendiri menjadi honorary chairman, jabatan kosong yang tidak memiliki kuasa mengambil keputusan. Javier Zanetti, legenda yang mungkin akan pensiun satu-dua tahun lagi, juga akan diberikan posisi penting di manajemen.

Selain di BoD, kemungkinan tidak terdapat banyak perubahan di bagian lain kecuali DS. Rosan Roeslani, salah satu BoD baru Inter Milan, mengatakan bahwa kinerja Marco Branca akan dievaluasi mengingat dia banyak menjual pemain-pemain muda potensial.

Lagi-lagi, disini mungkin Inter Milan akan mengikuti model Juve dimana mereka akan menunjuk orang-orang yang ahli dalam hal transfer ekonomis seperti Marotta dan talenta seperti Paratici.

Menurut gosip-gosip sebelumnya, Thohir dkk akan fokus di sisi finansial dan marketing dan menyerahkan sisi sepakbola dan operasional lainnya kepada orang-orang Italia.

***

Sekian Daily News hari ini. Mudah-mudahan para pemain Juve yang membela timnas-nya masing-masing semua dapat kembali dengan kondisi fit ke Vinovo. Forza Juve!!!

______________________________________________________________________________________

“I didn’t choose Juve. Juve chose me.” @dwicarta is just an ordinary guy who happens to bleed black-and-white since Roby Baggio wreaked havoc in 1990 World Cup in Italy. When time permits, he’d like to spend it on hoops and one of his passions: writing. One day he stumbled into juventus.theoffside.com and now here he is: doing his passion on his passion.


View the original article here

[Review UCL] Juventus 2-2 Real Madrid: Peluang Lolos Masih Terbuka Lebar!

You Are Here: Home » All Articles, Match Review » [Review UCL] Juventus 2-2 Real Madrid: Peluang Lolos Masih Terbuka Lebar!

Signora1897 ers, Juve memasuki pertandingan ini dengan tuntutan harus menang apabila ingin peluang lolos dari grup terbuka lebar. Dengan baru memiliki dua poin dari tiga pertandingan, Juve terancam gagal lolos apabila tidak menang karena di pertandingan lain, Galatasaray yang telah memiliki empat poin, diperkirakan akan menang mudah dari Kopenhagen.

Seperti di pertandingan away melawan Real Madrid dua minggu yang lalu, pelatih Antonio Conte kembali memainkan formasi 4-3-3 dengan Buffon; Caceres, Barzagli, Bonucci, Asamoah; Vidal, Pirlo, Pogba; Marchisio, Llorente, Tevez.

Arsene Wenger pernah mengatakan bahwa formasi 4-3-3 adalah formasi yang paling ideal untuk memanfaatkan seluruh luas lapangan dan terbukti, sebagian besar tim-tim top Eropa memainkan formasi ini atau 4-2-3-1, yang merupakan variasi dari 4-3-3.

Di Real Madrid, pelatih Carlo Ancelotti menurunkan formasi 4-2-3-1 dengan Casillas; Ramos, Varane, Pepe, Marcelo; Khedira, Alonso; Modric; Bale, Benzema, C. Ronaldo.

Walau memainkan formasi mirip, tampak satu perbedaan mencolok: Real Madrid memainkan dua DM dan satu trequartista di lapangan tengahnya sedangkan Juve satu regista dan dua box-to-box midfielder. Dari sini, tampak jelas Ancelotti mengutamakan kekokohan lapangan tengah dan belakang sambil memanfaatkan kejeniusan barisan depannya dalam serangan balik. Sebaliknya, dengan memainkan Andrea Pirlo, Conte mengandalkan penyerangan yang dibangun dari bawah sambil memanfaatkan kerja para pemain tengah yang lain ditambah para penyerang sayap.

Juv_RM_Picture1

Saat Real Madrid memegang bola, para pemain menciptakan formasi 3-3-4 dengan Luka Modric naik membantu barisan depan dan Sergio Ramos mengisi sayap kanan membantu lapangan tengah. Ancelotti meninggalkan tiga pemain belakang dengan pemikiran apabila diserang balik, ketiga pemain ini cukup untuk menghadapi dua penyerang Fernando Llorente dan Carlos Tevez, dimana penyerang ketiga Claudio Marchisio di kanan cenderung diposisikan lebih ke bawah oleh Juve. Posisi bek ketiga ini kerap diisi oleh Xabi Alonso.

Pada gambar di atas, Tevez sedang bertukar posisi dengan Paul Pogba, yang juga sering dilakukan di sisi kanan oleh Marchisio dan Arturo Vidal. Juventus, di lain pihak, bertahan dengan formasi 4-5-1 dengan kedua penyerang sayap Marchisio dan Tevez membentuk lima pemain tengah. Dengan hanya menempatkan empat pemain bertahan menghadapi empat penyerang musuh, memang para pemain tengah akan dapat dengan cepat menyerang saat mendapat bola tetapi mereka juga harus membantu barisan pertahanan supaya mempunyai keunggulan jumlah pemain. High risk, but high return tapi yang pasti, sangat melelahkan untuk para pemain tengah.

Sejak awal pertandingan, tampak Real Madrid bertujuan untuk memegang bola selama mungkin dan mengandalkan serangan balik saat tidak memegang bola. Di 10 menit pertama, Gareth Bale and terutama C. Ronaldo dua kali berhasil menusuk masuk ke sisi kiri pertahanan dengan serangan balik dan walau masih dapat dipantau pergerakannya oleh Kwadwo Asamoah dan Leonardo Bonucci, tendangan mendatar diagonal C. Ronaldo di menit kesembilan hanya meleset tipis di tiang kanan gawang Gianluigi Buffon.

Dengan dimainkannya Bonucci menggantikan Giorgio Chiellini yang terkena larangan main, pelatih Conte memanfaatkan kelebihan Bonucci dalam memanfaatkan long balls (dan sepanjang pertandingan, Bonucci melepaskan 11 long balls dan delapan accurate long balls, sama dengan trequartista Modric yang juga mengirim 11 long balls).

Juv_RM_Picture2

Selain itu, perhatikan posisi Tevez yang menarik satu pemain tengah Real Madrid untuk menjaganya dan Pogba di kiri dan Vidal di kanan yang sangat maju sehingga, saat Bonucci melepaskan umpan lambung, lima pemain Real Madrid (empat bek plus Alonso) menghadapi empat pemain menyerang Juve. Dengan metode ini, Real Madrid hanya menyisakan Khedira di tengah menghadapi Tevez dan Pirlo dan membuat aliran bola Real Madrid ke depan terputus. Memang Modric sering turun untuk membantu tetapi kalah kuat dan kalah determinasi.

Dengan ini saja, dominasi belum terjamin tetapi yang menjadi pembeda adalah Vidal yang dengan luar biasa naik turun membantu penyerangan dan mematahkan serangan lawan di tengah. Di babak pertama saja, Vidal tercatat melakukan enam (!) tekel dan tiga interceptions, keduanya tertinggi dari seluruh pemain di atas lapangan. Dengan Vidal sibuk naik turun dan kerap memenangkan bola di tengah, Pogba dengan leluasa menyerang di sisi kiri dan dari sinilah peluang pertama tercipta.

Di menit ke-17, Pirlo melihat Tevez bebas di sisi kanan pertahanan Real Madrid dan sukses mengirim bola. Tevez kemudian bekerjasama dengan Pogba, yang berhasil melepas umpan mendatar ke tengah.

Juv_RM_Picture3

Bola yang mengarah ke Fernando Llorente berhasil dihalau oleh Pepe tetapi bola justru mengarah ke gawang Iker Casillas! Casillas dengan reflek luar biasa berhasil menghalau bola tetapi bola bergulir ke arah Marchisio. Sayang, bola yang disambar Marchisio terlalu dekat dengan Casillas yang maju sehingga bola kembali bisa dihalau.

Selepas 15 menit pertama, permainan Juve mulai mengalir lancar dan kerap menyerang dengan empat pemain, Marchisio-Llorente-Tevez ditambah dengan Pogba. Kedua bek Asamoah dan Martin Caceres juga aktif naik, menciptakan empat pemain tengah bersama dengan Vidal dan Pirlo. 2-4-4 a la Conte? :D

Juv_RM_Picture4

Namun, patut diacungi jempol juga para pemain Real Madrid, yang tetap menjaga formasi dan disiplin turun dengan enam pemain saat diserang balik. Walau Juve mendominasi, disiplin para pemain Real Madrid ini membuat mereka tetap sulit ditembus. Bisa dilihat, kehadiran Xabi Alonso sangat penting di Real Madrid. Organisasi permainan menjadi jauh lebih baik dan lebih balance saat menyerang dan bertahan.

Di menit ke-28, dalam sebuah serangan balik yang menjadi berbahaya berkat umpan panjang akurat Vidal, keempat pemain ini kembali berperan besar dalam menciptakan peluang emas. Bola sampai di kaki Pogba yang diteruskan ke Tevez yang masuk ke sisi kanan pertahanan Real Madrid.

Juv_RM_Picture5

Tanpa banyak menggoreng bola, pemain Argentina ini melepaskan crossing akurat ke sisi lain pertahanan Real Madrid dimana Marchisio sudah datang dan menyundul dengan kuat dan akurat ke gawang Casillas! Tapi sayang!! Bola yang seharusnya masuk masih bisa dihalau dengan kaki Casillas yang mengantisipasi dengan reflek luar biasa!!!

Dalam 30 menit pertama, dua reflek luar biasa Casillas menggagalkan dua peluang emas Juve untuk unggul dua gol.

Tetapi akhirnya, kerja keras para pemain kita tidak sia-sia. Di menit ke-40, berawal dari serangan yang dibangun dari bawah, bola sampai ke kaki Vidal di tengah dan langsung diteruskan ke Llorente. Disini, para pemain belakang Real Madrid sedikit lengah, dimana dua bek tengah menjaga Llorente sehingga bek kanan Ramos sendirian menjaga Pogba dan Tevez.

Juv_RM_Picture6

Umpan Llorente jatuh persis di kaki Tevez, yang kemudian memberi umpan vertikal ke depan ke Pogba. Pogba yang sudah jauh maju tidak dapat dikejar oleh Varane, yang memutuskan untuk melakukan sliding tackle. Tekelnya tidak mengenai kaki Pogba, tetapi kaki yang satu lagi (the trailing leg) dengan jelas mengenai dan melanggar kaki Pogba. PENALTI!!!

Juv_RM_Picture7Vidal yang menjadi algojo tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan mencetak gol dengan tendangan penalti yang sempurna.

Menit ke-41: Juve 1-0 Real Madrid (Gol: Arturo Vidal, penalti).

Menjelang akhir babak pertama, Real Madrid yang ganti menekan berhasil lolos di sisi kanan yang dijaga Caceres dan Vidal melalui Marcelo dan dia berhasil mengirim umpan datar menyilang yang akurat. Untunglah, C. Ronaldo dan Karim Benzema saling ‘berebut’ menembak bola sehingga bola malah meleset dari sasaran. Apabila Benzema lebih awas dan mengalah, mungkin C. Ronaldo telah dapat menyamakan kedudukan.

Hingga turun minum, skor tidak berubah.

HT: Juventus 1-0 Real Madrid (Juv: 41' (pen.) Vidal)

***

Saat menyerang, formasi 4-3-3 Juve dengan cepat berubah menjadi 2-4-4 apabila bola berhasil masuk ke final third Real Madrid atau saat serangan balik sukses melewati garis tengah. Formasi 4-2-3-1 Real Madrid pun berubah menjadi 4-4-2 saat bertahan. Suatu resiko yang membuahkan hasil dengan berhasilnya Juve unggul 1-0. Kegagalan Benzema menjaga Pirlo juga membuat Pirlo merajalela dan aman mengatur aliran bola yang membuat resiko Juve terkena serangan balik menjadi minimal.

Di lain pihak, saat bertahan, Juve menggunakan 4-5-1 untuk menghadapi 4-2-3-1 Real Madrid yang kerap berubah menjadi 3-3-4. Juve berhasil mendominasi setelah 15 menit pertama berkat penampilan tim yang baik dan terutama kecemerlangan Vidal di tengah dan majunya posisi Pogba mendukung Tevez yang membuat sisi kanan Real Madrid yang dijaga Ramos kerap ‘bolong’.

Akan tetapi, perubahan antara menyerang-bertahan ini membuat Vidal dan Pogba di tengah dan Tevez dan Marchisio di depan bekerja keras menutup area yang luas yang membuat mereka sangat terkuras tenaganya dibanding dengan pemain-pemain tengah dan depan Real Madrid.

***

Babak kedua dimulai tanpa banyak perubahan. Juve menurunkan intensitas sebagaimana layaknya sebuah tim yang telah all out di babak pertama tetapi tetap dengan organisasi permainan yang baik. Real Madrid sedikit menaikkan barisan dan melakukan pressing sebagaimana layaknya tim yang tertinggal. Namun secara keseluruhan, awal babak kedua ini berjalan normal dengan kedua tim masih meraba-raba perubahan yang dilakukan oleh masing-masing lawan.

Sayang, di menit ke-52, Caceres yang bermain sangat baik sampai saat itu, sedikit ceroboh dalam memberikan back pass yang dapat dibelokkan arahnya oleh C. Ronaldo sehingga jatuh di kaki Benzema.

Juv_RM_Picture21

Dari gambar di atas tampak pelatih Conte memang memberikan instruksi back pass kepada Caceres tetapi sayang dapat dibaca oleh C. Ronaldo. Bola yang jatuh di kaki Benzema itupun kemudian dikembalikan ke C.Ronaldo yang kemudian dengan mudah menaklukkan Buffon satu lawan satu.

Selain kecerobohan Caceres, Real Madrid secara baik sekali melakukan pressing. C. Ronaldo menjaga back pass ke Barzagli (dan Buffon), Modric menjaga pass ke depan, dan Xabi Alonso menjaga pass ke samping ke Pirlo. Selain itu, hal yang jarang disinggung adalah ketidakberadaannya Vidal dan Marchisio sebagai pass outlet untuk menerima operan karena mereka terlambat turun.

Menit ke-52. Juventus 1-1 Real Madrid (Gol: Cristiano Ronaldo. Assist: Karim Benzema).

Sejak gol balasan ini, semakin tampak barisan Real Madrid yang naik, terutama kedua full back Ramos dan Marcelo. Barisan Juve pun semakin mundur dan semakin tertekan.

Di menit ke-56, sebuah serangan yang diawali dengan bergeraknya Benzema melebar ke daerah kiri pertahanan Juve membuka sedikit celah dan Xabi Alonso masuk dari tengah. Tendangan first time-nya dengan keras dan terarah menghantam mistar gawang Buffon! Semua ini terjadi karena naiknya seluruh barisan Real Madrid dan terlalu dalamnya pemain-pemain tengah Juve bertahan, terutama Pirlo yang kehilangan Xabi.

Peluang kemudian silih berganti datang. Di menit ke-58, sebuah serangan yang dibangun dari bawah sampai ke Tevez di sisi kanan pertahanan Real Madrid. Tevez kemudian memberikan umpan vertikal ke Pogba yang ditempel oleh Ramos. Ternyata, skill dan kecepatan Pogba berhasil mengelabui Ramos dan Pogba mengirimkan umpan menyilang mendatar ke Marchisio yang bergerak secara diagonal di dalam kotak penalti. Akan tetapi, sontekan Marchisio kembali dapat digagalkan oleh reflek Casillas!! Bola pantulannya yang disambar Marchisio-pun masih dapat dibuang di garis gawang oleh Pepe.

Gagal-lah Juve kembali unggul dalam waktu yang cepat. Malah hanya dua menit kemudian, tepatnya di menit ke-60, Juve kembali kebobolan. Marcelo memberikan umpan lambung ke C. Ronaldo, yang melihat celah di belakang Caceres dan masuk ke dalamnya. Tiba-tiba, Real Madrid sudah berada dalam posisi tiga lawan tiga dengan pemain-pemain belakang Juve.

Juv_RM_Picture22

Barzagli terpaksa bergerak melebar untuk menjaga C. Ronaldo dan Benzema menusuk masuk untuk menarik Bonucci sehingga Bale dengan leluasa menerima bola.

Nah, disinilah kelemahan Juve tereksploitasi. Asamoah yang bermain sebagai LB masih menjaga Bale tetapi karakteristiknya yang bukan asli pemain belakang membuatnya tidak berkutik dalam satu lawan satu dengan pemain cepat seperti Bale.

Bonucci, yang sangat baik dalam sistem tiga bek tetapi biasa-biasa saja dalam formasi empat bek, sebenarnya masih sempat datang membantu tetapi malah memilih untuk menjaga daerah dan tidak menutup pergerakan pemain Wales tersebut.

Selain itu, Pirlo sebagai CM tidak cepat mundur untuk membantu pertahanan. Seorang DM akan mempunyai naluri untuk turun sehingga menciptakan keunggulan jumlah pemain dan memperkecil peluang Real Madrid mencetak gol.

Tanpa “gangguan” pemain tengah dan menghadapi pemain yang out-of-position yang tidak dibantu oleh CB-nya, Bale tidak menemui kesulitan untuk mencetak gol.

Menit ke-60. Juventus 1-2 Real Madrid (Gol: Gareth Bale. Assist: Cristiano Ronaldo).

Akan tetapi, untunglah mental pemain-pemain kita tidak runtuh. Organisasi permainan tetap utuh dan akhirnya, Caceres membayar kesalahannya di awal babak kedua. Dengan semua empat pemain Juve yang berada di kotak penalti dijaga dengan baik, Caceres memberikan crossing yang akurat yang tepat berada di antara kiper dan pemain belakang.

Sedikit terlalu jauh, kiper akan dengan mudah mengambil bola. Sedikit terlalu dekat, pemain-pemain belakanglah yang mendapatkannya. Berkat crossing cemerlang ini, dan adanya seorang penyerang tengah tinggi besar dan bertenaga dalam diri Llorente, Juve berhasil menyamakan kedudukan!!!

Juv_RM_Picture23

Lihatlah bagaimana disiplinnya pemain-pemain belakang Real Madrid menjaga pemain-pemain kita di dalam kotak penalti. Mereka sama sekali tidak membuat kesalahan. Gol terjadi sebagian besar berkat crossing akurat Caceres, yang dimanfaatkan oleh Llorente yang dengan kekuatannya gagal ditahan oleh Varane.

Menit ke-65. Juventus 2-2 Real Madrid (Gol: Fernando Llorente. Assist: Martin Caceres).

Setelah ini, Juve yang telah kelelahan membuat Real Madrid lebih banyak memegang bola. Walau begitu, organisasi permainan tetap rapi dan bahkan Tevez dan penggantinya Fabio Quagliarella masih dapat melakukan tembakan langsung dari sisi kiri sedikit di luar kotak penalti tetapi masih dapat diblok dan ditahan oleh kiper Casillas. Real Madrid, yang tidak perlu ngotot mengejar kemenangan, juga bermain aman sambil memegang bola dan beberapa kali mendapat hadiah tendangan bebas yang tidak dapat menemui sasaran.

FT: Juventus 2-2 Real Madrid (Juv: 41' (pen.) Vidal, 65' Llorente; Rma: 52' C. Ronaldo, 60' Bale).

***

Sama seperti ketika Juve lengah saat melawan Fiorentina dan kebobolan tiga gol dalam waktu lima menit, kali ini Juve kebobolan dua gol (hampir tiga kalau saja tendangan Xabi Alonso tidak mengenai mistar) dalam waktu delapan menit. Menurut penulis, kelengahan-kelengahan ini terjadi karena:

Saat sudah sedikit lelah, terutama di babak kedua, pemain-pemain tengah kurang cepat mundur untuk menjadi pass outlet bagi pemain-pemain belakang. Selain kecerobohan Caceres, hal ini jugalah yang menjadi penyebab gol pertama Real Madrid.Saat sudah sedikit lelah, terutama di babak kedua, pemain-pemain tengah kurang cepat menyesuaikan diri dengan barisan lawan yang telah lebih naik dibandingkan dengan posisi mereka di babak pertama. Contoh: Pirlo “kehilangan” Xabi dan Xabi hampir mencetak gol. Untunglah hanya mengenai mistar.Pirlo, yang bukan seorang DM, kembali kurang cepat mundur menjelang gol kedua Real Madrid. Hal ini menyebabkan terjadinya situasi tiga lawan tiga dimana salah satunya bahkan bukan seorang bek murni.Tidak adanya seorang LB murni di dalam tim. Asamoah adalah seorang CM dan baik Paolo De Ceglie dan Federico Peluso adalah LWBs. Seorang LB murni akan dapat berbuat lebih banyak untuk mencegah Bale mencetak gol kedua Real Madrid.

Dari poin nomor dua hingga nomor tiga, ada satu kesamaan: Pentingnya posisi yang dimainkan Pirlo untuk dapat cepat turun membantu pertahanan. Pirlo sendiri kurang cepat turun kemungkinan karena stamina yang sudah menurun di babak kedua. Penulis cukup yakin apabila tidak dibenahi, hal ini akan terus dieksploitasi oleh lawan-lawan Juve di pertandingan-pertandingan mendatang.

Mengenai posisi LB, tidak ada yang dapat banyak dilakukan selain diperbaiki dengan membeli seorang LB murni di Januari atau musim panas mendatang (akan tetapi melihat penampilan Napoli dan Roma, sepertinya akan terlambat kalau menunggu hingga musim panas).

Itu dari sisi pertahanan. Untuk penyerangan, mengambil seorang RWB baru yang memiliki karakteristik pemain tengah yang rajin bekerja sepertinya cukup untuk membuat tim kita ini semakin komplit. Pemain baru ini dan Simone Pepe dapat bergantian mengisi posisi ini.

***

PLAYERS RATING

Buffon: 6. Buffon masih seorang organisator pertahanan yang sangat baik dan di awal babak pertama dengan cepat menjatuhkan diri untuk menangkap tendangan yang masuk tetapi tidak dapat dipungkiri, refleknya sudah semakin menurun. Dengan badan yang tinggi besar, penurunan kecepatan dan reflek karena faktor umur akan lebih cepat terjadi dibandingkan dengan Iker Casillas yang lebih pendek dan enteng dari Buffon.

Caceres: 6. Tanpa kecerobohannya yang menyebabkan gol pertama Real Madrid terjadi, bersama Vidal, Caceres adalah pemain terbaik Juve malam ini. Kecepatan dan skill bertahannya mampu menahan C. Ronaldo di dua pertandingan berturut-turut dan crossing-crossing akuratnya (2 key passes, 4 crosses, 3 accurate crosses) sangat membantu ketajaman penyerangan Juve. Satu cross-nya berbuah menjadi assist dimana Llorente kemudian menyamakan kedudukan dan memastikan Juve menuai satu poin penting.

Barzagli: 6.5. Walau Real Madrid mencetak dua gol, keduanya bukanlah tanggung jawab Barzagli dan dari sisi bertahan, Barzagli-lah pemain terbaik Juve malam ini (2 tacles, 2 interceptions, 6 clearances). Positioning, decision-making… Dia semakin membuktikan diri sebagai bek tengah terbaik Italia saat ini.

Bonucci: 6. Menggantikan Chiellini di jantung pertahanan empat bek, Bonucci bermain cukup baik dalam menggagalkan serangan-serangan Real Madrid. Sayang keputusannya untuk tidak menutup pergerakan Bale dengan cepat menyebabkan pemain timnas Wales tersebut dapat mencetak gol kedua Real Madrid. Kembali, umpan-umpan panjangnya (11 long balls, 8 accurate long balls) menjadi salah satu alasan lancarnya aliran bola Juve.

Asamoah: 6. Untuk pertama kalinya dicoba sebagai bek kiri, Asamoah memanfaatkan ball-keeping-nya dengan baik untuk mengamankan daerah pertahanannya. Kelemahannya ada di marking dan begitu terdapat celah, Bale mampu mengeksploitasi Asamoah yang bukanlah seorang full back murni.

Vidal: 7. Dengan enam tekel di babak pertama, Juve merajalela di lapangan tengah dan terus mendapatkan bola berkat pemain timnas Chile ini. Menurun karena kelelahan di babak kedua (total tacles: 7, total interceptions: 3) namun berkat Vidal-lah Juve memiliki peluang untuk mengambil poin dari Real Madrid. Selain itu, diawali dengan kejelian umpan Vidal pula-lah gol pertama Juve tercipta.

Pirlo: 6.5. Apabila Vidal memenangkan bola, Pirlo-lah yang mengolahnya sehingga Juve begitu mendominasi di babak pertama. Tidak seperti Mario Mandzukic yang mematikan Pirlo di dua pertandingan Juve-Bayern musim lalu, Benzema tidak menjalankan tugasnya dengan baik dalam mengawal Pirlo. Modric juga turun ke bawah terlalu jauh untuk dapat mengganggu Pirlo. Alhasil, Il Maestro dengan leluasa mengontrol jalannya pertandingan (3 key passes, 94 passes,95% pass accuracy, 20 long balls, 19 accurate long balls). Sayang, umur membuat gerakannya di babak kedua menurun dan gagal membantu pertahanan dengan baik.

Pogba: 6.5. Secara statistik, permainan Pogba (2 key passes) tidak menonjol tetapi pergerakan dan kombinasinya dengan Tevez di kiri-lah senjata utama Juve malam ini. Berkali-kali kedua pemain ini saling bertukar posisi dan merobek-robek pertahanan bek kanan Ramos. Kerja keras dan skill pemain timnas Prancis ini semakin penting bagi permainan Juve.

Marchisio: 6. Kembali dipasang sebagai RFW dalam menghadapi Real Madrid, walau tidak spektakuler Marchisio menjalankan fungsinya dengan baik dan bahkan dapat mencetak dua gol apabila keberuntungan berpihak kepadanya. Walau tidak menonjol, pergerakan dan penempatan posisinya membuat pertahanan Juve lebih solid dan memusingkan bek-bek Real Madrid dengan tusukan-tusukan ke dalam kotak penaltinya.

Llorente: 6.5. Dijaga ketat oleh Varane dan Pepe dan bermain cukup baik, kerap dapat menahan bola tanpa kehilangan dan membuat permainan mengalir. Berkontribusi dalam dua gol Juve: Menahan bola dan kemudian mengalirkannya ke Tevez-Pogba dalam serangan balik untuk gol pertama dan menggunakan kekuatan dan tinggi badannya untuk mencetak gol pertama. Llorente akan berperan besar bagi Juve begitu dia mencapai match fitness yang optimal (tebakan penulis, sekitar Januari/Februari).

Giovinco: s.v. Masuk menggantikan Llorente di menit ke-88. Tidak memiliki waktu untuk berkontribusi.

Tevez: 7. Tevez memang kembali gagal mencetak gol di Champions League tetapi permainannya membuat Juve “hidup”. Dalam dua musim berturut-turut di bawah Conte, permainan Juve selalu “macet” saat memasuki final third lawan tetapi hal ini terpecahkan dengan masuknya Tevez musim ini. Permainan menyerang (5 key passes, 3 long balls, 3 accurate long balls) dan bertahannya seimbang tanpa menurunkan kualitas. Dengan kualitas seperti ini, penulis yakin Tevez akan segera mencetak gol di kancah ini.

Quagliarella: s.v. Masuk menggantikan Tevez di menit ke-82. Kecuali dua tendangan yang mengarah ke gawang, tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkontribusi.

***

Secara keseluruhan, tiga dari empat gol di pertandingan ini terjadi karena kesalahan dari masing-masing pihak. Memang seperti inilah pertandingan kelas tinggi Eropa (sekarang ini). Jarang gol terjadi murni berkat kejeniusan pemain, dan bahkan seorang C. Ronaldo juga baru dapat mencetak gol setelah terjadi kesalahan dari lawan lebih dulu.

Memiliki pemain kelas dunia akan sangat berguna saat permainan sedang “mentok” tetapi dengan perekonomian Italia dan Juventus sekarang ini, penulis yakin dengan menambal beberapa “lubang”, Juventus akan dapat menjadi lebih solid dan lebih berbahaya lagi, tidak kalah dari Real Madrid

Dari sisi formasi dan tipe pemain, penulis berpendapat 4-3-3 layak diusung menjadi andalan, setidaknya mulai musim depan, dan apabila poin-poin di atas dapat dibenahi, penulis yakin pertahanan Juve akan menjadi jauh lebih kuat. Dan apabila dapat dibenahi, sepertinya Juve dapat berbicara banyak di kancah Champions League (apabila lolos dari grup) dan berpotensi besar untuk meraih scudetto untuk ketiga kalinya berturut-turut.

Dengan hasil ini, Real Madrid memimpin grup B dengan 10 poin, kemudian disusul oleh Galatasaray 4 poin, Copenhagen 4 poin dan Juventus 3 poin. Walau saat ini berada paling bawah, Juve akan lolos apabila memenangkan dua pertandingan terakhir, Juventus-Copenhagen dan Galatasaray-Juventus, dan apabila dapat terus bermain seperti ini dan ditambah dengan meminimalkan kesalahan, Juve akan lolos.

Forza Juve!!!

______________________________________________________________________________________

“I didn’t choose Juve. Juve chose me.” @dwicarta is just an ordinary guy who happens to bleed black-and-white since Roby Baggio wreaked havoc in 1990 World Cup in Italy. When time permits, he’d like to spend it on hoops and one of his passions: writing. One day he stumbled into juventus.theoffside.com and now here he is: doing his passion on his passion.


View the original article here

[Match Review Giornata 9 Serie A 2013/2014] Juventus vs Genoa: Juve Belum Habis

You Are Here: Home » All Articles, Match Review » [Match Review Giornata 9 Serie A 2013/2014] Juventus vs Genoa: Juve Belum Habis

Signora1897-ers, kegagalan meraih poin dalam dua pertandingan berturut-turut saat melawan Viola Merda dan Madrid tentu membuat banyak pihak sempat beranggapan bahwa anak asuh Antonio Conte telah kehilangan bahan bakar untuk mengarungi kompetisi pada musim ketiganya. Namun semua anggapan tersebut seolah menjadi pemacu para pemain Juve untuk membuktikan bahwa Juve belum lah habis.

Benar saja, pada lanjutan Serie A pekan ke 9 melawan Genoa di J Stadio, Juve seolah membuktikan bahwa Juve belum habis, bahkan semakin lebih baik lagi. Hal tersebut juga diakui oleh pelatih Genoa, Gian Piero Gasperini. Seusai laga, Gasperon sempat mengungkapkan bahwa Juve sedang tidak dalam kondisi krisis. Pernyataan Gasperon tersebut tentu menjadi sinyal bagi semua rival bahwa JUVE BELUM HABIS!

Pada pertandingan melawan Genoa, Conte memutuskan untuk kembali memakai formasi 3-5-2 kesayangaannya, setelah sebelumnya sempat memakai pola 4-3-3 saat melawan Madrid. Seentara dari pihak Genoa, Gasperon memakai pola 4-4-1-1.

preview

Dari susunan pemain, Conte menurunkan semua pemain intinya yang sedang fit. Di lini belakang, Leo Bonucci yang sempat dicadangkan saat melawan Madrid kembali ke starting line-up bersama Barzagli dan Chiello. Di lini tengah, cederanya Lichtsteiner tampaknya sedikit memberikan ruang untuk Isla bermain di posisi RWB, menemani Vidal, Pirlo, Pogba dan Asamoah di LWB. Di lini depan, menipisnya stok pemain pada posisi ini menyusul cederanya Vucinic, Quagliarella, dan kurang bugarnya kondisi Giovinco membuat Conte memilih duet striker yang baru tiba musim panas ini, yakni Tevez dan Llorente.

Sejak peluti dibunyikan, Juve langsung tancap gas untuk mencetak gol pada pertandingan ini. Fernando Llorente menjadi pemain pertama yang mendapatkan peluang untuk mencetak gol pada menit ke 6, namun sayang crossing Asamoah dari sisi kanan pertahanan Genoa gagal menemui kepala Fernando. Tidak lama kemudian, Fernando juga mendapatkan peluang emas untuk mencetak gol keduanya di Serie A, berawal dari crossing Isla dari sisi kiri pertahanan Genoa yang tidak dapat diantisipasi oleh Perin, bola muntah tersebut gagal dimaksimalkan oleh Fernando yang berada pada posisi yang seharusnya bisa menceploskan bola ke gawang. Selain reflek yang sangat bagus dari Perin, tampaknya Fernando tidak mengira bahwa bola tersebut akan mengarah tepat ke arahnya.

Selain Fernando, pemain lain yang juga mempunyai kesempatan untuk mencetak gol pertama pada pertandingan ini adalah Arturo Vidal. Melihat rapatnya barisan pertahanan Genoa, pada menit ke 19, Vidal mencoba peruntungan dengan melepaskan tendangan jarak jauh, namun sayang meskipun Perin hanya terpana dan tidak dapat berbuat apa-apa, tendangan tersebut dapat diselamatkan oleh tiang gawang.

asa

Seolah tidak lelah untuk mencari gol pertama, Juve terus menekan pertahanan Genoa, hingga pada akhirnya pemain Genoa, Davide Biondini melakukan pelanggaran terhadap Asamoah yang coba melakukan penetrasi ke daerah pertahanan Genoa. Banyak pihak berpandangan bahwa pelanggaran yang dilakukan Biondini terhadap Asamoah dilakukan di luar kotak penalty, namun wasit tetap memutuskan untuk memberikan penalti untuk Juve.

Arturo Vidal, yang menjadi algojo penalti tidak menyia-nyiakan peluang tersebut. Vidal berhasil menendang ke arah kanan dari Perin, sementara Perin salah mengantisipasi dengan mengarah ke arah yang berlawanan. JUVENTUS 1 – Genoa 0

1003486_10151685019247466_387258036_n

Setelah unggul 1 gol, Juve belum menurunkan pedal gas, bahkan semakin menambah serangan ke arah pertahanan Genoa. Dua menit setelah mencetak gol, lagi-lagi Juve mendapatkan peluang emas untuk menambah keunggulan, kali ini giliran Andrea Pirlo yang mendapatkannya, namun sayang peluang tersebut gagal dimanfaatkan dengan baik oleh Andrea. Pergerakan Pirlo ke dalam pertahanan Genoa tentu mengejutkan pemain Genoa, karena sebelumnya Andrea jarang melakukan tusukan ke dalam pertahanan lawan.

Selain Pirlo, pemain lainnya yang juga mempunyai kesempatan menambah keunggulan adalah Paul Pogba. Berawal dari kesalahan pemain Genoa yang terlalu lama membawa bola, Pogba yang berhasil mencuri bola tersebut gagal memanfaatkan peluang tersebut, tendangan yang coba diarahkan ke tiang jauh gagal menemui sasaran.

Akhirnya, setelah menggempur pertahanan Genoa, Juve berhasil mendapatkan gol keduanya melalui Carlos Tevez. Pada menit 36, memanfaatkan umpan Asamoah, Tevez berhasil mengelabui pemain Genoa, dan akhirnya berhasil menaklukkan Perin yang bermain gemilang pada pertandingan ini. JUVENTUS 2 – Genoa 0

Setelah dua kali berhasi mengoyak gawang Genoa, praktis di babak kedua Juve terus memburu gol ketiga, tragedi di Firenze tampaknya tidak ingin diulangi oleh semua pemain. Dari beberapa peluang yang didapatkan Juve di babak kedua, hanya peluang Fernando Llorente lah yang seharusnya bisa menambah keunggulan Juve, namun tendangan yang kurang sempurna dari Llorente membuat bola gagal masuk ke jala Perin.  Kedudukan 2-0 unuk Juve bertahan sampai peluit akhir dibunyikan. JUVENTUS 2 – Genoa 0

1003478_763814663645765_997061724_n

Hal menarik yang dapat dilihat dari pertandingan ini adalah intensitas Juve yang menekan Genoa untuk bermain setengah lapangan, bahkan Genoa menjadi tim kedua setelah Torino yang tidak dapat memberikan shot on target!. Meskipun hanya mencetak dua gol, namun melihat dari statistik permainan Juve yang mampu menguasai bola sampai 59% dan menciptakan 9 kali shot on target, boleh dibilang Genoa beruntung hanya kebobolan dua gol.

stat

Selain membuktikan bahwa Juve belum habis, kemenangan atas Genoa disaat banyak pemain yang cedera tentu menunjukkan kedalaman skuad yang dimiliki Antonio Conte. Fernando Llorente misalnya, meskipun sempat mengalami kesulitan pada awal kedatangannya, namun Spaniard jangkung tersebut membuktikan bahwa dirinya pantas untuk berada di Juve. Meskipun tidak mencetak gol, namun Llorente menjadi pemain yang paling sering melepaskan tendangan ke gawang Genoa, total Llorente melepaskan 5 kali tendangan dan 3 shot on target.

nando

Secara keseluruhan, permainan Juve sangat menghibur, terutama kombinasi Tevez dan Llorente. Meskipun menghibur, menurut penulis, permainan Juve sedikit menurun di babak kedua, dan sedikit mengendorkan serangan, beruntung pemain Genoa tidak dapat memaksimalkannya menjadi peluang. Salah satu penyebab Genoa tidak dapat menyerang pertahanan Juve adalah pergerakan Carlos Tevez yang juga ikut turun ke bawah untuk menjemput bola. Dilihat dari pergerakannya, Tevez sempat turun sampai garis tengah untuk membantu para gelandang untuk meredam permainan Genoa.

carlos

Apabila Juve mampu mempertahankan permainan seperti ini, bukan tidak mungkin Juve mampu meraih hasil positif ketika menjamu Madrid dan Napoli di J Stadio pekan depan, sehingga kesempatan untuk bermain di Lisbon dan mempertahankan Scudetto untuk ketiga kalinya akan semakin terbuka. Forza Juve!


View the original article here